Psikolog: Pemain Timnas U17 Indonesia Butuh Dukungan, Bukan Tekanan: Okezone Bola

Uncategorized167 Dilihat

PSIKOLOG mengingatkan pendukung Timnas U-17 Indonesia dia membutuhkan dukungan, bukan tekanan. Tim Garuda Asia -julukan Timnas U-17 Indonesia- berupaya melanjutkan kiprahnya ke babak 16 besar. Kejuaraan Dunia U-17 2023.

Ada budaya kritik di kalangan pendukung timnas Indonesia. Namun, Psikolog Timnas U-17 Indonesia Afif Kurniawan menegaskan, hal tersebut perlu dibedakan karena tim besutan Bima Sakti merupakan tim kelompok umur yang masih terus berkembang.

Bedanya, tidak ada budaya bullying. Tidak ada penyalahgunaan pemain. Mungkin ada hinaan di jejaring sosial, namun orang-orang terdekat akan memberikan dukungan dan perlindungan. Lingkungan terdekat seorang pemain adalah pelatih dan keluarga, kata Afif Kurniawan dalam keterangan yang diperoleh MNC Portal Indonesia (MPI), Kamis (16/11/2023).

Laga selanjutnya, Timnas U17 Indonesia akan menghadapi Maroko U17 di babak A-Group Piala Dunia U17. Pertemuan kedua tim akan berlangsung di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya, Kamis (16/11/2023).

Afif mengatakan komentar negatif di media sosial akan berdampak besar bagi para pemainnya. Namun tim mendapat dukungan dari lingkungan sekitar untuk berkembang lebih jauh.

“Kontrasnya yang kami alami selama berada di sini, hasil imbang ganda, kebalikan dari apa yang terjadi di media sosial. Di jejaring sosial memang seperti itu. “Mereka tumbuh dengan karakteristik sesuai usia,” kata Afif.

Ikuti berita Okezone berita Google

Ikuti terus semua berita terkini dari Okezone hanya dengan satu akun di ORION, daftar sekarang
klik disinidan nantikan kejutan menarik lainnya


Dosen Universitas Airlangga ini mengatakan Arkhan Kaka membutuhkan arahan untuk terus belajar dan berkembang. Ia tak ingin beban orang dewasa menimpa timnya.

Baca Juga  Dokter dan Perawat di Indonesia Alami Ketimpangan Sosial, Ini Jawaban Pakar: Okezone Health

Timnas U-17 Indonesia

“Yang mengganggu saya adalah mengapa kita tidak melihat hal itu, tapi lebih memilih kekalahan dan kemenangan. “Kami harus memprioritaskan mereka dalam proses pertumbuhan karena mereka akan bermain sepak bola dalam waktu yang lama,” ujarnya.

“Mengapa kita membebani mereka dengan orang dewasa? Jangan membebani orang dewasa dengan anak-anak. Ini bukan soal ekspektasi, Anda bisa memenangkan pertandingan. Itu normal. “Tetapi menjadi beban karena mereka belum dewasa,” imbuhnya

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *