Letusan Gunung Merapi konon mengubur karya sastra peninggalan Mataram Kuno: National Okezone

Uncategorized218 Dilihat

MISKIN – Kerajaan Mataram kuno hanya meninggalkan sedikit peninggalan karya sastra karena diyakini terkubur akibat letusan Gunung Merapi. Kuatnya letusan Gunung Merapi juga memaksa pusat ibu kota kerajaan berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.

Konon di antara beberapa karya sastra dari kerajaan Mataram kuno, kitab Ramayana Kakawin merupakan kitab yang paling terkenal. Namun ada beberapa sumber yang menyebutkan bahwa Ramayana karya Kakawin merupakan gabungan dari cerita Mahabarata dan Ramayana yang diketahui dari India.




Karya sastra Ramayana Kakawin konon mempunyai bahasa yang indah, meski belum diketahui secara pasti siapa penciptanya. Dalam buku ini, penyair mampu mengaplikasikan ilmu puisi Sansekerta dalam bahasa Jawa Kuno yang berada dalam rumpun bahasa berbeda dengan Sansekerta.

Dari buku “Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Purba” dijelaskan bahwa identifikasi waktu Rāmāyan Kakawin konon berasal dari pertengahan abad ke-9. abad atau dari awal abad ke 10 Masehi. Hal ini kita ketahui berkat penelitian Poerbatjarak, seorang filolog Indonesia, yang mendasarkan pendapatnya pada kosa kata, tata bahasa, terutama adanya konjugasi bentuk dan nama jabatan pemerintahan yang sama dengan jabatan pada prasasti sebelum Pu Sindok. .

Poerbatjaraka kemudian menegaskan kembali maksudnya dengan mengatakan bahwa Rāmāyana Kakawin disusun pada masa pemerintahan Rakai Watukura Dyah Balitung. Karena sekarang diketahui dari prasasti Siwagrha bahwa candi Loro Jonggrang ditahbiskan pada tahun 856 M, maka pandangan tersebut identik dengan tafsir Poerbatjarak.

Sayangnya, Kitab Rāmāyana Kakawin merupakan satu-satunya karya sastra pra Pu Sindok yang turun ke generasi sekarang. Alasannya, ia menduga karya sastra tersebut tidak akan diwariskan kepada generasi berikutnya karena ia tidak menyukainya. Saat itu, pengurangan karya sastra merupakan satu-satunya cara untuk memperbanyaknya.

Baca Juga  Jadwal imsak dan waktu sholat bulan ini Januari 2024 Jakarta dan sekitarnya

Sebab karya sastra itu, jika dilihat dari keterangan yang ada di dalamnya, ditulis di atas bahan yang tidak tahan lama, yaitu karas atau barangkali sama dengan sejenis batu tulis atau bambu yang dibelah. Tentu saja karya sastra yang tidak disukai lagi pada akhirnya akan musnah dan kemungkinan besar hilang.

Ikuti berita Okezone berita Google

Ikuti terus semua berita terkini dari Okezone hanya dengan satu akun di ORION, daftar sekarang
klik disinidan nantikan kejutan menarik lainnya

BACA JUGA:

Sedangkan pada masa pemerintahan Mataram Kuno pada masa Dinasti Sailendra di Pulau Jawa, ditemukan karya sastra yang hilang karena pusat kerajaan harus dipindahkan ke Jawa Timur akibat letusan Gunung Merapi terbesar sepanjang sejarah yang menguburkan kota.

Ada kemungkinan raja, sanak saudara, dan kelompok elite lain yang mungkin memiliki koleksi karya sastra melarikan diri ke Jawa Timur tanpa sempat membawa koleksi tersebut. Kelompok elit yang tidak mengungsi karena wilayahnya tidak terkena dampak letusan mungkin masih memiliki karya sastra. Namun kenyataannya tidak ada apa pun di Jawa yang dapat melestarikannya setelah berdirinya kerajaan Islam.

Dapat dikatakan hampir seluruh karya sastra Jawa Kuna yang ada saat ini ditemukan kembali di Bali dan Lombok dan ditulis dalam aksara Bali karena orang Balilah yang melestarikannya. Faktanya, lebih banyak karya sastra yang sampai kepada kita sejak masa pemerintahan dinasti Isyana.

Teks pertama yang dapat kami sebutkan di sini adalah Sang Hyang Kamahāyānikan yang berisi uraian tentang ajaran Buddha Mahayana. Salah satu naskah menyebutkan nama Raja Pu Sindok walaupun dalam bentuk agak rusak, yaitu Sri Isana Bhadrotunggadewa mpu Sindok.

Baca Juga  Tim Thomas ke Final, Tim Uber Kalah, Informasi Lebih Lanjut di Okezone Update! : Samudera Nasional

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *