Kepala BI Ungkap 5 Alasan yang Akan Melemahkan Ekonomi Global di 2024: Economy Okezone

Uncategorized73 Dilihat

JAKARTA – Situasi di dunia Dikatakan bahwa saat ini keadaannya tidak baik. Sebab, saat ini dunia masih dilanda gejolak.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyinggung perang antara Rusia dan Ukraina, perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, dan kini konflik Israel-Palestina.

BACA JUGA:

Fragmentasi geopolitik ini kemudian berdampak pada fragmentasi geoekonomi yang mengakibatkan prospek perekonomian global memburuk pada tahun 2024 dan kembali cerah pada tahun 2025.

“Ketidakpastian global masih tinggi dengan 5 ciri. Yang pertama adalah pertumbuhan yang lebih lambat dan divergen,” kata Perry dalam Rapat Tahunan BI 2023 di Jakarta, Rabu (29/11/2023).

BACA JUGA:

Pertumbuhan ekonomi global akan turun menjadi 2,8% pada tahun 2024 sebelum meningkat menjadi 3% pada tahun 2025, dengan perekonomian AS yang masih baik-baik saja, Tiongkok yang melambat, sementara India dan india diperkirakan akan tumbuh kuat.

Kedua, disinflasi bertahap, penurunan inflasi terjadi secara perlahan, meskipun pengetatan kebijakan moneter yang agresif di negara-negara maju hanya akan moderat pada tahun 2024. Meski begitu, penurunan tersebut masih di atas target karena harga energi dan pangan global, serta penurunan inflasi. pasar tenaga kerja yang ketat,” tambahnya. Perry melanjutkan.

Yang ketiga lebih tinggi lagi untuk Fed Funds Rate (FFR), yang diperkirakan akan tinggi pada tahun 2024, dengan imbal hasil Treasury AS yang terus meningkat karena meningkatnya utang AS.

Ikuti berita Okezone berita Google

Ikuti terus semua berita terkini dari Okezone hanya dengan satu akun di ORION, daftar sekarang
klik disinidan nantikan kejutan menarik lainnya


Keempat adalah dolar yang kuat, dolar AS yang masih kuat menyebabkan melemahnya nilai tukar mata uang dunia, termasuk rupee, lanjut Perry.

Baca Juga  Tingkatkan kewaspadaan, berikut 7 gejala cacar monyet: Okezone Kesehatan

Kelima, uang tunai adalah raja dalam bentuk arus keluar modal dalam jumlah besar dari negara-negara emerging market ke negara-negara maju, sebagian besar ke AS karena tingginya suku bunga dan kuatnya dolar AS.

“Kelima kudeta ini telah memberikan dampak buruk bagi berbagai negara, tidak terkecuali Indonesia. Kita harus waspada dan mengantisipasi dengan respon kebijakan yang tepat terhadap ketahanan dan kebangkitan perekonomian nasional yang telah kita bangun dengan susah payah,” dia menambahkan. Perry menyimpulkan.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *