Kapan DN Aidit akan dieksekusi: Luangkan waktumu, saya mau pidato dulu! : Samudera Nasional

Uncategorized69 Dilihat

JAKARTADipa Nusantara (DN) Aidit dialah salah satu dalang tragedi pembantaian para jenderal tanggal 30 September 1965 (30SPKI). Ketua Umum Pengurus Pusat Partai Komunis Indonesia (CC-PKI) ini dijatuhi hukuman mati pada era Soeharto.

Mengutip berbagai sumber, DN Aidit melarikan diri ke Yogyakarta setelah kudeta yang gagal. Namun saat melarikan diri, Aidit ditangkap oleh satuan brigade infanteri Kostrad IV di sebuah desa dekat stasiun Solo Balapan.




Ada laporan, ada tokoh PKI yang ditembak mati di dekat sumur tua dengan senjata AK-47 di tengah perkebunan pisang.

Pada hari penangkapannya, Aidit menikmati kopi dan rokok. Bahkan, saat hendak dibawa, Aidit memintanya membawa rokok.

“Rokok ini boleh saya bawa,” kata Aidit. Kemudian prajurit yang menangkapnya menjawab.

“Bawa saja rokoknya. Nanti buatkan rokok bersama Gatot Subrot,” katanya, mengisyaratkan Aidit akan segera menyusul Jenderal Gatot Subrot yang meninggal pada tahun 1962.

Setelah ditangkap, Aidit dibawa ke Loji Gandrunga. Di sana, seorang tentara berpangkat mayor mencoba mengambil alih penangkapan Aidit. Namun upaya tersebut ditolak oleh Komandan Brigade Mayjen Yasir Hadibroto.

Sesuai perintah Jenderal Soeharto, Yasir kemudian memerintahkan anak buahnya, Mayor ST, untuk mencari sumur tua yang tidak ada airnya. Di sumur kering itulah hidup Aidit berakhir di hadapan regu tembak.

Saat hendak dieksekusi, Aidit mengingatkan para perwira militer bahwa ia adalah menteri koordinator di kabinet Dwikora.

“Tahu nggak maksudnya jadi menteri koordinator? Ini wakil ketua sementara MPR? Sumurnya apa? Untuk apa?” katanya kepada Mayor Jenderal Jásir Hadibrot.

Namun gertakan Aidit kali ini tidak berpengaruh. Pertanyaan DN Aidit kemudian dijawab oleh Yasir.

Baca Juga  Menelusuri Pengasingan Rengasdengklok, Ganjar Sampaikan Semangat Perjuangan Bung Karna: Okezone Nasional

Ikuti berita Okezone berita Google

Ikuti terus semua berita terkini dari Okezone hanya dengan satu akun di ORION, daftar sekarang
klik disinidan nantikan kejutan menarik lainnya


“Saya paham pak, dan kalau bapak mau tahu untuk apa sumur ini? Ini untuk bapak. Tahukah pak Yani juga yang memberikan sumur seperti itu?” kata Mayjen Yasir Hadibroto Aidit.

Sadar ajal sudah dekat, Aidit meminta waktu untuk berbicara.

“Santai saja, saya mau pidato dulu,” kata Aidit.

Di akhir pidatonya, Aidit meneriakkan “Hidup PKI!”

Inilah teriakan terakhir Aidit, sesaat kemudian peluru langsung menembus dagingnya.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *