Ganjar Sebut Transformasi Energi Butuh Rp 1,3 Triliun, Apakah Investasi Ramah Lingkungan Sepadan dengan Potensinya? : Okezone Ekonomi

Uncategorized135 Dilihat

JAKARTA – calon presiden (calon presidenGanjar Pranowo yang didukung Partai Perindo menekankan pentingnya transisi energi dari sumber fosil ke energi hijau dan terbarukan (EBT) sebagai langkah krusial bagi Indonesia.

Menurutnya, diperlukan investasi sebesar Rp1,3 triliun untuk mencapai tujuan tersebut.

Ganjar mengutarakan pemikirannya pada acara peluncuran KTT Milenium dan Gen Z Indonesia 2023, dikutip Sabtu (25/11/2023).

Ia menjelaskan, dana besar tersebut bukan hanya sebagai biaya investasi, namun juga sebagai upaya preventif, perlindungan lingkungan, dan penciptaan lapangan kerja baru.

“Kalau kita ingin memperbaiki, mencegah, mengurangi kerusakan lingkungan dan sebagainya, kita membutuhkan Rp 1,3 triliun,” kata Ganjar seraya menegaskan investasi tersebut akan sepadan dengan manfaatnya pada KTT Milenium dan Gen Z 2023 di Jakarta, Jumat (11 /24 2023).

Ikuti berita Okezone berita Google

Ikuti terus semua berita terkini dari Okezone hanya dengan satu akun di ORION, daftar sekarang
klik disinidan nantikan kejutan menarik lainnya


Ganjar optimistis transisi energi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, namun juga membuka peluang kontribusi dari pihak swasta.

Ia melihat banyak peluang bisnis yang muncul dari tantangan transisi energi.

“Banyak pengusaha, ini peluang. Kita bisa berupaya menuju energi yang lebih ramah dan tentunya kita membutuhkan skenario ini,” jelasnya.

Ganjar mencontohkan potensi pengembangan panel surya sebagai bagian dari strategi transisi energi.

Ia mencatat, saat ini ada perusahaan panel surya besar yang mungkin tertarik dengan proposal transisi energi yang telah ia siapkan.

Dalam konteks waktu, Ganjar menegaskan, peluang untuk melakukan transisi energi tidak terlalu lama.

Jika terpilih menjadi presiden, Ganjar berjanji akan menggunakan periode antara pemilihan presiden pada 14 Februari 2024 hingga pelantikan pada Oktober untuk merumuskan skenario transisi energi.

Baca Juga  Soal mentalitas, Marc Marquez belajar dari juara F1 Fernando Alonso: Okezone Sports

Dia mengatakan timnya telah menyiapkan rencana paralel untuk transisi energi. Namun apakah jumlah tersebut sepadan dengan potensinya?

Direktur Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Medrilzam sebelumnya menyoroti potensi investasi hijau yang mampu menciptakan jutaan lapangan kerja setiap tahunnya di masa depan.

Potensi ini diharapkan dapat meningkatkan daya dukung lingkungan dan mengurangi emisi gas rumah kaca.

Pada seminar bertajuk “Bridging the Cross-Sector Gap in Achieving More Ambisious Climate Goals in Indonesia” yang diselenggarakan oleh Institute for Essential Services Reform (IESR), Medrilzam menjelaskan potensi lapangan kerja dari investasi ramah lingkungan dapat mencapai 1,66 juta lapangan kerja setiap tahunnya. 2045.

Namun, diperlukan investasi rata-rata sebesar Rp 2,377 triliun per tahun antara tahun 2025 hingga 2045 untuk mencapai potensi tersebut.

Medrilzam menekankan pentingnya kebijakan yang mendukung keuangan hijau yang inovatif, seperti keuangan campuran, investasi berdampak, pajak karbon dan lain-lain.

“Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, diperlukan kebijakan yang mengarah pada penguatan pembiayaan inovatif ramah lingkungan, seperti blended financing, impact investment, pajak karbon dan lain-lain,” kata Medrilzam, dikutip dalam siaran pers IESR, Jumat (24/11/2023). ).

Diharapkan melalui pendekatan ekonomi hijau dan pembangunan rendah karbon dapat meningkatkan daya dukung lingkungan sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca.

Untuk mencapai target pertumbuhan PDB Indonesia sebesar 6 hingga 7 persen pada tahun 2022-2045, diperlukan tindakan nyata mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, termasuk pembiayaan non-APBN yang inovatif.

Ferike Indah Arika, Pakar Muda Pusat Analisis Kebijakan Perubahan Iklim dan Kebijakan Keuangan Multilateral, Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan, menekankan bahwa pembiayaan inovatif diperlukan untuk mengatasi tantangan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Baca Juga  Dokter Palestina Ditolak Masuk Prancis karena Dilarang dari Jerman, Kok Bisa? : Okezone kesehatan

Ia mengatakan, akumulasi dana yang dibutuhkan untuk mitigasi perubahan iklim antara tahun 2018 hingga 2030 mencapai Rp4,002 triliun.

Faktanya, angka yang diberikan Ganjar Pranowo bukanlah angka yang besar dibandingkan perkiraan Bappenas. Namun dengan terpenuhinya target investasi transformasi energi, Ganjar mungkin bisa menaikkan targetnya lagi di masa depan.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *