Dokter dan Perawat di Indonesia Alami Ketimpangan Sosial, Ini Jawaban Pakar: Okezone Health

Uncategorized63 Dilihat

MENGHITUNG Terbaru, Menteri Kesehatan Budi Sadikin menyoroti kesenjangan antara perawat dan dokter di Indonesia. Dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI beberapa waktu lalu, Menkes mengatakan banyak masyarakat yang menilai profesi perawat tidak sama dengan profesi dokter.

Kejadian seperti ini tentu saja mengkhawatirkan karena kondisi ini hanya terjadi di Indonesia. Menurut Menkes, kesenjangan antara kedua profesi tersebut tidak terjadi di negara lain. Ia pun meminta agar budaya tersebut dihilangkan.

Ketua Himpunan Perawat Onkologi Indonesia (HIMPONI), Dr. Kemala Rita Wahidi membenarkan kondisi yang terjadi di lapangan.

“Kesenjangan ini terjadi karena dokter sudah mencapai level spesialis sehingga menyulitkan perawat dalam memahami instruksinya,” kata dr. Kemala pada seminar dokter spesialis keperawatan baru-baru ini.

Ditambahkan Dr Kemala, perbandingan pendidikan ini membuat proses kerja di lapangan semakin sulit. Sulit bagi perawat untuk memahami dan menganalisis pasien sesuai petunjuk dokter. Apalagi bagi penderita kanker yang kondisinya harus mendapat perawatan yang memadai

“Bedanya pendidikan keperawatan tidak seperti kedokteran. “Mendapatkan D3 saja sudah sulit, padahal dokternya sudah subspesialisasi, jadi selisihnya dua kali lipat,” kata Dr. Kemal.

Menurut dr Kemal, hal inilah yang menyebabkan perawat merasa rendah diri akibat perbedaan yang ada.

“Akibatnya, banyak pasien yang kualitasnya kurang baik karena tidak semua instruksi dokter sampai ke pasien. “Itu karena analisa perawat tidak sama dengan analisa dokter,” ujarnya.

Ikuti berita Okezone berita Google


Tentunya harus ada dokter spesialis keperawatan yang khusus untuk menjembatani kesenjangan yang ada antara perawat dan dokter. Hal ini memungkinkan perawat untuk menganalisis pasien menurut dokter spesialis onkologinya.

“Dengan pendidikan keperawatan khusus, kita dapat mengatasi kesenjangan ini dalam cara perawat menganalisis dan analisis mereka bisa sama dengan yang dilakukan oleh ahli onkologi khusus,” kata Dr. Kemal.

Baca Juga  Calon Legislatif Perindo Abdul Khaliq gelar bazar sembako murah di pasar Cimaung: Okezone News

Diakui Dokter Kemala, menangani pasien kanker memang tidak mudah, apalagi yang sudah berada pada stadium lanjut. Oleh karena itu, diperlukan adanya perawat yang dapat mendampingi pasien dalam penatalaksanaan yang baik sesuai prosedur dari dokter profesional.

“Karena sebagian besar pasien kanker datang dalam stadium lanjut. Artinya kondisi pasien buruk sehingga penatalaksanaannya sangat sulit dan perlu didampingi perawat yang mengikuti program yang dibuat dokter, ujarnya.

Untuk itu Roche, FIK-UI, RS Dharmais dan HIMPONI menjalin kerjasama untuk mengembangkan tenaga perawat spesialis onkologi yang dapat membantu dalam proses penatalaksanaan pasien onkologi. Pendidikan keperawatan spesialis onkologi ini diharapkan dapat meminimalisir kesenjangan antara dokter dan perawat di Indonesia.

“Bagaimana perawat yang sudah lulus di bidang spesialisasi ini, analisa dan pemikiran kritisnya bisa sama dengan dokter spesialis onkologi,” kata Dr. Kemal.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *