7 Strategi Ganjar Mempersiapkan Indonesia Emas 2045 dan Faktor Penghalang yang Bisa Menghambatnya: National Okezone

Uncategorized123 Dilihat

JAKARTA – Calon presiden Ganjar Pranowo menggagas 7 strategi dalam persiapan dan pelaksanaan Indonesia Emas 2045. Tujuh strategi yang digagas Ganjar adalah pengembangan sumber daya manusia (SDM) produktif, pengentasan kemiskinan, stabilisasi harga bahan pokok, membangun industri hilir kelas dunia , memperkuat jaminan sosial yang bersih, meningkatkan nilai tambah dan mengembalikan alam Indonesia ke keadaan yang lebih baik.




Ia yakin Indonesia bisa menjadi negara ekonomi besar, termasuk mewujudkan Indonesia yang semakin sejahtera, sehat, cerdas, dan produktif. Menurut Ganjara, diperlukan tiga landasan untuk mencapai tujuan tersebut, yakni digitalisasi pemerintahan, pemberantasan korupsi, dan penggandaan APBN untuk penyediaan layanan berkualitas.

Sebagai pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH), Emrus Sihombing meyakini tujuh program prioritas calon presiden Ganjara Pranow dapat menjadikan Indonesia sebagai negara adidaya. Menurutnya, diperlukan landasan yang kuat untuk mencapai Indonesia emas pada tahun 2045. Emrus menilai 7 program Ganjar memberikan landasan yang sangat cocok untuk hal tersebut.

Emrus berpendapat keunggulan utama Indonesia menjadi negara adidaya adalah negara kita mengandalkan Pancasila untuk mengajarkan pluralisme. Ia mengatakan, beberapa negara dan tokoh dunia memuji Pancasila sebagai dasar bangsa dan negara.

Berdasarkan laman resmi Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), pada tahun 2045 Indonesia akan mengalami masa keemasannya. Saat itu, Indonesia akan berusia 100 tahun atau satu abad. Menjadi negara maju setara negara adidaya merupakan cita-cita Indonesia saat itu.

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan generasi yang akan mewujudkan Indonesia emas adalah generasi muda, khususnya yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Dijelaskannya, mereka yang mendaftar pada program sarjana dan pascasarjana saat ini rata-rata berusia sekitar 20 tahun. Ketika Indonesia berusia 100 tahun pada tahun 2045, mereka akan berusia sekitar 40 tahun atau lebih, yang merupakan usia puncak karir profesional.

Mempersiapkan Generasi Emas Indonesia 2045 tidaklah mudah. Ada beberapa faktor yang mungkin menghambat kelancaran rencana Indonesia Emas 2045. Berikut faktor-faktornya.

1. Masalah stunting

Stunting merupakan suatu kondisi kekurangan gizi pada bayi pada 1.000 hari pertama kehidupannya yang berlangsung dalam jangka waktu lama dan mengakibatkan terhambatnya perkembangan otak serta tumbuh kembang anak.

Baca Juga  Daftar 4 Klub yang Lolos ke Perempatfinal Liga Champions 2023-2024: Sang Juara Bertahan Masih Melaju: Okezone Bola

Ikuti berita Okezone berita Google


Kondisi ini harus segera diatasi karena akan menghambat momentum generasi emas Indonesia 2045 karena berpotensi mengganggu potensi sumber daya manusia dan berkaitan dengan tingkat kesehatan bahkan kematian anak.

Hasil Survei Status Gizi Anak Muda di Indonesia (SSGBI) menunjukkan angka stunting mengalami penurunan sebesar 27,67% pada tahun 2019. Meskipun angka pertumbuhan stunting mengalami penurunan, namun angka tersebut masih tergolong tinggi karena WHO bertujuan untuk mencegahnya. pengerdilan. Rasio ini tidak boleh melebihi 20%.

2. Pernikahan dini

Pernikahan dini atau pernikahan anak akan berdampak pada kegagalan Indonesia di bidang pendidikan, kesehatan, pengentasan kemiskinan, dan pengurangan kesenjangan.

Oleh karena itu, diperlukan keseriusan untuk segera menghadirkan payung hukum untuk mencegah perkawinan anak. Selain itu, diperlukan sikap tegas untuk mencegah pihak-pihak yang mendorong pernikahan anak dengan menggunakan norma-norma yang konservatif.

3. Radikalisme

Hasil survei Alvara Research Center (Oktober 2017) menunjukkan bahwa setidaknya 29,6% ahli sepakat bahwa memperjuangkan negara Islam diperlukan untuk mengamalkan Islam secara kaffah. Lebih lanjut dijelaskan, sebanyak 19,4% pegawai negeri sipil (ASN) dan 18,1% pegawai perusahaan negara (BUMN) menyatakan tidak setuju dengan Pancasila dan lebih memilih ideologi khilafah.

Hasil survei tersebut tidak mengherankan jika dibarengi dengan hasil penelitian yang dilakukan Pondok Pesantren dan Persatuan Masyarakat Nahdlatul Ulama (P3M NU) pada 29 September hingga 21 September 2017. Riset tersebut mengungkap, sebanyak 41 masjid telah dibangun. dimiliki oleh pemerintah. Lembaga di Jakarta yang memiliki informasi rinci mengenai 11 masjid kementerian, 11 masjid LSM, dan 21 masjid BUMN disebut berisiko terpapar ekstremisme. Menariknya, tak hanya profesional dan ASN yang dicantumkan. Atlet, pelajar, bahkan lembaga pendidikan pun tak luput dari risiko diserang ekstremisme.

Ken Setiawan, pendiri Islamic State Crisis Center di Indonesia, mengatakan saat ini banyak atlet papan atas yang direkrut dan mengaku sebagai anggota kelompok ekstremis. Sementara itu, hasil survei lain yang dilakukan Alvara terhadap 2.400 siswa SMA di kota-kota besar dan 1.800 mahasiswa dari 25 universitas ternama menunjukkan bahwa 16,3% siswa SMA dan 23,5% mahasiswa menyatakan setuju dengan jihad untuk mendukung jihad. Negara Islam atau kekhalifahan. Sementara itu, hasil penelitian Setara Institute (Februari-April 2019) menunjukkan setidaknya 10 perguruan tinggi negeri di Indonesia aktif terpapar ekstremisme.

Baca Juga  Konflik antar anak Panembahan Senopati, penguasa Mataram, menyebabkan kematian misterius: National Okezone

Dengan kondisi seperti itu, tentu sulit membayangkan generasi sekarang dan generasi usia kerja pada tahun 2045 benar-benar bisa mengantarkan Indonesia menuju masa keemasannya. Namun jika tidak segera dianggap sebagai ancaman serius dan tidak segera diatasi, maka gagasan tentang keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan ideologi Pancasila tentu akan menjadi rumit.

4. Korupsi

Korupsi merupakan permasalahan yang belum terselesaikan di Indonesia bahkan sudah menjadi budaya dan bagian dari sistem yang ada. Selain itu, korupsi merugikan masyarakat karena proyek yang disponsori negara tidak memenuhi standar yang disyaratkan.

Mengingat pelaksanaan proyek memerlukan biaya yang cukup besar, tentunya perlu berkonsultasi dengan baku mutu agar hasil proyek yang dilaksanakan dapat bermanfaat bagi masyarakat. Hal ini sering terjadi di Indonesia, dimana proyek-proyek yang seharusnya bermanfaat bagi masyarakat ternyata kualitasnya buruk, bahkan membahayakan masyarakat, karena dimanfaatkan oleh orang-orang yang bertanggung jawab.

5. Ketimpangan sosial

Ketimpangan sosial dan ekonomi masih menjadi permasalahan besar di Indonesia. Permasalahan ini harus diselesaikan untuk mencapai Indonesia emas 2045. Ketimpangan ekonomi dan sosial terjadi pada perbedaan pendapatan dan akses terhadap sumber daya. Terjadi antar masyarakat, provinsi, kota besar dan daerah terpencil. Teks ini akan dipersingkat menjadi lebih pendek.

Faktor penyebab kesenjangan sosial antara lain kurangnya pendidikan, kesenjangan pendapatan, terbatasnya akses terhadap sumber daya, dan sistem pengelolaan sumber daya alam yang tidak adil. Dalam hal ini kesenjangan sosial juga akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional.

Selain itu, ketimpangan ekonomi juga menjadi tantangan yang harus dihadapi Indonesia untuk mencapai Indonesia Emas 2045. Indonesia masih memiliki kesenjangan ekonomi yang relatif besar antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil. Permasalahan utamanya adalah keterbatasan infrastruktur, masih banyak daerah terisolir yang belum ada.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *