Panorama Bukit Mliwang

Daun Jambu itu Dibersihkan Mbah Faqih Sendiri

1 - Mar - 2012 | by: admin
Saat Setelah Pemakaman Mbah Faqih - sosialnews.com

sosialnews.com – Meski kharisma dan ketokohannya sudah diakui hingga ke segenap penjuru tanah air dan sejumlah negara lainnya, sosok pemangku salah satu ponpes tertua di Jawa ini kerap sekali menunjukkan sikap keteladanannya.

Tak dipungkiri, kepergian Syaikhona KH Abdullah Faqih, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Langitan, Widang, Tuban, di penutup bulan Februari beberapa saat jelang waktu Isya`, selasa (29/2) sekitar pukul 18.30 wib, bangsa Indonesia kehilangan tokoh besarnya. Tak pelak, kepergian ulama bersahaja yang akrab disapa Mbah Faqih, “Seperti hilangnya bulan purnama dari orbitnya,” kata KH Ichya Ulumuddin mewakili keluarga. “Tidak hanya keluarga Ponpes Langitan semata yang berduka. Sebab Bulan Purnama itu telah meninggalkan kita semua,” kata dia.

Di mata para santri dan warga, sosok Kyai Faqih adalah simbol kesederhanaan, istiqomah dan alim.Beliau tak hanya pandai mengajar, melainkan menjadi teladan seluruh santri. Dalam shalat lima waktu misalnya, Mbah Faqih selalu memimpin berjamaah. Demikian pula dalam hal kebersihan. Bahkan tak jarang Beliau menyingsingkan sarungnya, membersihkan sendiri daun jambu yang berserakan di halaman.

Meski tetap mempertahankan ke-salaf-annya, pada era Kyai Faqih inilah Ponpes Langitan lebih terbuka. Misalnya, mendirikan Pusat Pelatihan Bahasa Arab, kursus komputer, Taman Kanak-Kanak (TK) dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Dalam hal penggalian dana, Beliau membentuk Badan Usaha milik pondok berupa toko, kantin, dan wartel.

Ayah 12 anak, buah perkawinannya dengan Hj Hunainah ini juga mengarahkan santrinya agar lebih dekat dengan masyarakat. Di antaranya Beliau mengirim da’i ke daerah-daerah sulit di Jawa Timur dan luar Jawa. Setiap Jumat juga menginstruksikan para santrinya salat Jumat di kampung-kampung. Juga membuka pengajian umum di pesantren yang diikuti masyarakat luas.

Dalam hubungan dengan pemerintah Orde Baru, Kyai Faqih sangat hati-hati. Meski tetap menjaga hubungan baik, Beliau tidak mau terlalu dekat dengan penguasa, apalagi menengadahkan tangan minta bantuan, sekalipun untuk kepentingan pesantrennya. Bahkan, tak jarang menolak bantuan pejabat atau siapapun, bila melihat di balik bantuan itu ada `maunya’.

Mungkin, karena inilah perkembangan pembangunan fisik Langitan termasuk biasa-biasa saja. Sekilas, dari jalan raya memang tidak tampak pesantren, karena tertutup perkampungan. Tapi begitu masuk, terasalah denyut kehidupan pesantren yang berada di atas areal sekitar 6 hektar itu.

Beberapa pohon mangga dan jambu dibiarkan tumbuh subur, hingga memberi rasa teduh. Agak masuk ke dalam, ada sebuah rumah kecil terbuat dari kayu berwarna janur kuning, sederet dengan asrama santri dan rumah pengasuh lain. Di situlah KH Abdullah Faqih, tokoh yang sangat disegani di kalangan NU itu tinggal selama ini.

Di belakang rumah itu memang ada bangunan berlantai dua, “Tataipi Kyai sendiri tetap tinggal di di rumah kayu itu,” terang sejumlah santri.

Rumah berukuran sekitar 7×3 meter, hanya ada seperangkat meja kursi kuno dan dua almari berisi kitab-kitab, lantai dilambari karpet, ada juga kaligrafi dan dua jam dinding. Itu saja. Di situ pula Kyai Faqih menerima tamu-tamunya. Baik dari kalangan bawah, pengurus NU, maupun pejabat. Hasyim Muzadi, Ketua Umum PBNU, juga termasuk tokoh yang rajin sowan ke Kyai Faqih.

Di kalangan NU sendiri dikenal istilah kyai khos atau kyai utama. Ada syarat tertentu sebelum seorang kyai masuk kategori khos. Antara lain, mereka harus mempunyai wawasan dan kemampuan ilmu agama yang luas, memiliki laku atau daya spiritual yang tinggi, mampu mengeluarkan kalimat hikmah atau anjuran moral yang dipatuhi, dan jauh dari keinginan-keinginan duniawi.

Dengan kata lain, mereka sudah memiliki kemampuan waskita. Nah, Kyai Faqih termasuk dalam kategori kyai waskita itu. Tentu saja organisasi sebesar NU punya banyak kyai khos. Tapi, Kyai Faqih-lah yang kerap jadi rujukan utama di kalangan Nahdliyin, terutama menyangkut kepentingan publik.

Pesantren Langitan termasuk pesantren tua di Jawa Timur. Didirikan pada tahun l852 oleh KH Muhammad Nur, asal Desa Tuyuban, Rembang, Langitan dikenal sebagai pesantren ilmu alat. Para generasi pertama NU pernah belajar di pesantren yang terletak di tepi Bengawan Solo ini. Antara lain KH Muhammad Cholil (Bangkalan), KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Syamsul Arifin (ayahnya KH As’ad Syamsul Arifin), dan KH Shiddiq (ayahnya KH Ahmad Shiddiq).

Kyai Faqih (generasi kelima) memimpin Pesantren Langitan sejak l971, menggantikan KH Abdul Hadi Zahid yang meninggal dunia karena usia lanjut, Beliau didampingi KH Ahmad Marzuki Zahid, yang juga pamannya. (grey)


Beranda | RSS 2.0 | Kategori: Sosok | Tags: Trackback | 8 Comments

8 Responses to “Daun Jambu itu Dibersihkan Mbah Faqih Sendiri”

  1. Zuniar says:

    JANGAN TERLALU MENDEWA-DEWAKAN SESEORANG DENGAN BERLEBIHAN. SEHERUSNYA YANG HARUS KITA AGUNG-AGUNGKAN PERTAMA TUHAN YANG MAHA ESA (ALLOH SWT)

    ORANG TUA KITA SERING TERABAIKAN GARA-GARA MENTOKOHAN ORANG LAIN ADALAH TINDAKAN KONYOL.

  2. Sumari says:

    Kpd zuniar..bukan kami brmksud mendewa2kan,namun utk mengenang jasa sekaligus belajar meneladani sifat2 mulia beliau..dasar kow edan kranjingan

  3. Sumari says:

    bukan kami brmksud mendewa2kan,namun utk mengenang jasa sekaligus belajar meneladani sifat2 mulia beliau..dasar kow edan kranjingan

  4. Sahlan says:

    (COCOK ZUNIAR) Yang harus dan layak kita teladani adalah Rosululloh (Muhammad) dan orang tua kita karena selama 9(sembilan) bulan mengandung penuh dengan kesabaran dan keiklasan. untuk kebaikan orang lain itu hanya nomor 99,9% APALAI sepengetahuan kita terhadap mereka hanya katanya orang aliyas ikut-ikutan.

  5. Yono says:

    podo koplak. yang harus dimuliakan adalah orang tua, lalu mertua, lalu guru, dst…. orang lain nomor sekian, apalagi orang dari negeri jauh. nngak nyambung……..

  6. Rofiq says:

    gah usah rame brow semoga kita dapat barokanya gitu aja!
    makasih

  7. Sumari says:

    Hap..hap..hap setuju kang rofiq gitu aja kok repot

Isi Komentar

*
  • Archives

 


©Copyleft 2011 - 2012 by sosialnews.com
Custom & Design: paradesain.net