Panorama Bukit Mliwang

Siapa Pilih Jadi Pelacur?

15 - Jul - 2012 | by: admin
15-7-slut-1

ROMANSA, sosialnews.com – Dari sekian ratus juta perempuan yang menghuni planet Bumi ini, saya yakin, tidak ada seorangpun yang sudi menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK) atau kasarnya pelacur. Semua manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan positif karena Tuhan menciptakannya dari bahan dasar yang baik dan dibentuk dalam wujud sebaik-sebaik makhluk. Perilaku negatif yang justru seringkali lebih menonjol ketimbang positifnya, saya pikir, karena dorongan faktor-faktor eksternal pribadi manusia, bukan karena faktor genetika atau faktor internal lainnya. Semua gen manusia sama, tidak ada gen khusus pelacur atau perampok.

Jika saya akrab dengan—sebut saja—Mira, apakah salah? Siapa yang tidak tahu Mira adalah seorang PSK. Tetapi, seperti yang saya sebut di atas itu, tidak ada perempuan yang sudi menjalani pekerjaan sebagai wanita pemuas syahwat komersial tanpa desakan keterpaksaan. Orang yang bilang itu hanya sekedar dalih untuk menutupi sifat-sifat bejat Mira dan para pelacur umumnya, mungkin dia sedang sakit jiwa sehingga tidak bisa berpikir obyektif.

Mira sendiri sadar sepenuhnya jika profesi yang telah dijalani lima setengah tahun itu bukan pekerjaan mulia dan bahkan tergolong sebagai penyakit sosial. Mira sangat mengerti bahwa Tuhan melarang keras bisnis perzinaan, dan pelaku-pelakunya mendapat dosa. Tetapi Mira juga mengerti bahwa Tuhan tidak semata-mata menjatuhkan hukuman pada hamba-hambaNya. Mira yakin Tuhan maklum, karena profesi sebagai pemuas birahi itu dia jalani karena terpaksa, bukan sebab pilihan hidup.

“Suami saya kawin lagi dengan orang Banyuwangi, dan kabarnya mereka sekarang ada di Kalimantan. Sejak anak ke dua saya umur setahun sampai sekarang, dia nggak pernah sekalipun pulang, sekedar menjenguk anaknya lah. Saya juga nggak ngarep apa-apa lagi,” cerita Mira, dulu, ketika saya baru beberapa hari mengenal dia. Saat itu Mira yang mengaku berasal dari salah satu desa di Pati, Jawa Tengah masih menjadi “anak asuh” di Komplek Lokalisasi semi-legal Nggandul, Dusun Wonorejo, Desa Gesing, Kecamatan Semanding.

Tetapi kalau saja tidak terbelit hutang, Mira mengaku tidak akan terjun ke dunia bisnis prostitusi. Awalnya dia bekerja serabutan. Buruh cuci pakaian, buruh cuci piring di warung, sampai jualan kue keliling pernah dia lakoni. Hasil dari pekerjaan serabutannya itu tentu buat mengenyangkan perut dua anaknya yang masih balita saja tidak cukup. Ditambah hutang-hutang peninggalan suaminya, maka semakin beratlah beban Mira. Rumah Mira sendiri sudah tersita dan terpaksa ia mengontrak rumah kecil di pinggiran kota Pati. Tetapi menginjak tahun kedua, ia sudah tidak lagi mampu membayar ongkos kontrak rumahnya. Ia pulang ke desa, menitipkan dua anaknya pada orang tuanya, lalu dia pergi mencari pekerjaan di kota lain.

“Seorang teman yang punya warung di kota Tuban ini menampung saya. Dia-lah yang mengenalkan saya pada dunia bisnis pelacuran,” kisah Mira pada saya, waktu itu.

Sejak mengenal saya, Mira mengaku hari-harinya lebih ceria. Dia memang lumayan cantik. Masih muda, meski bila dibanding saya, dia terpaut tiga tahun diatas usia saya. Saya tidak tahu apakah kemudian kami terhubung oleh perasaan cinta. Yang jelas, aku semakin sering mengunjunginya di tempat praktek, dan Mira juga bilang kangen sekali jika seminggu saja saya tidak nongol di depannya. Tidak pernah ada kata terucap memang. Dan kami sendiri tidak yakin bahwa kami sedang saling jatuh cinta. Jujur, selama saya berteman dengan Mira, belum pernah sekali pun aku melakukan hubungan badan, meski dia seorang pelacur. Mungkin karena itu Mira tertarik dan percaya padaku. Tapi jika Anda tidak percaya, ya itu hak anda semua.

“Mas bisa nolong saya nyarikan kerja?“ tanya Mira suatu saat.
“Kerja apa?” tanyaku balik.
“Apa saja yang penting bisa mengentas saya dari tempat ini,” kata Mira. “Lagian komplek semakin sepi karena tiap hari dirazia. Mungkin ini saat yang tepat bagi saya untuk kembali ke jalan yang benar.”
“ Ijazahmu?”
“ SMP……”

Aku terdiam. Berpikir. Mencoba mendayagunakan memoriku semaksimal mungkin untuk mengingat kawan-kawan atau kenalan yang memiliki usaha dan sedang butuh tenaga kerja berijazah SMP. Sejumlah nama kemudian aku catat. Berikutnya aku mencoba mendekati mereka untuk melamarkan pekerjaan buat Mira. Awalnya, kawan-kawan dan kenalan saya itu respek, tetapi begitu mereka tahu Mira adalah pekerja seks di komplek Nggandul, mereka pun bilang; “Wah, berat, Bek, bisa-bisa orderku menurun, pelanggan lari semua kalau tahu karyawanku seorang bekas pelacur.”

Ah, demikian berat ternyata sanksi yang diberikan masyarakat terhadap seorang pelacur macam Mira. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk mengentaskannya dari lembah hitam itu. Jalan paling mudah adalah aku nikahi Mira. Tapi apa itu mungkin? Selain aku telah memiliki istri dan dua orang anak, keluarga dan orang-orang di sekitarku tentu akan menjatuhkan sanksi yang sangat berat pada kami. Mengetahui aku sering ada di lokalisasi saja, kawan-kawan sejawatku sudah demikian sinis. Vonis langsung dijatuhkan bahwa saya, Bekti Sudra Kamajaya, seorang hidung belang yang suka jajan di lokalisasi. Vonis tanpa proses pengadilan dan karenanya aku hampir tak punya hak pledoi alias membela diri. Memang sih, siapa yang akan percaya seorang lelaki dewasa keluar masuk lokalisasi tanpa pernah mencicipi pelacur-pelacurnya. Sialnya yang namanya iman dan ilmu itu tidak bisa dilihat dengan mata empiris, sehingga tak mampu dipakai untuk menolak semua tudingan miring itu.

Tapi biarlah. Aku akan tetap membantu Mira mengatasi masalahnya. Biar semua orang menjauh karena jijik atau mungkin kuatir tertular penyakit menular seksual (PMS) yang disangka telah aku idap. Bagiku semua itu tidak terlalu penting. Bagiku Mira adalah manusia, dan kebetulan dia seagama dengan ku. Jadi apa pasal aku harus surut langkah hanya karena opini orang-orang yang tidak pernah mau menganalisa terlebih dahulu sebelum menyimpulkan tentang apa yang dilihat dan didengarnya.

Seorang teman yang aku temukan lagi kemudian via jejaring sosial Facebook, tertarik kisah-kisahku tentang Mira yang aku kirim kepadanya. Dia berjanji membantuku mengentas perempuan malang itu. “Ada uang sedikit yang bisa saya kirim ke kamu, Bek. Mungkin bisa buat modal usaha Mira itu,” kata temanku tadi via ponsel. Dan aku tersenyum girang mendengarnya.

Aku pun berbegas menemui Mira. Tetapi betapa kagetnya aku ketika dikasih tahu “mami” bahwa Mira sudah dua minggu tidak lagi menghuni kamarnya. Mami itu sendiri tak mengerti ke mana perginya Mira. Aku seketika lemas. Usahaku nyaris berhasil, tetapi mengapa si Mira malah tidak ku temukan lagi? Apakah memang perempuan itu telah Engkau takdirkan sebagai pelacur selamanya ya Tuhan? Atau jangan-jangan sesuatu telah terjadi pada Mira-ku itu?

Rasa cemas mendesakku pergi ke Pati, ke desa asal Mira. Tetapi keluarga Mira yang aku temui justru bersikap acuh tak acuh. Pupus sudah semuanya. Usahaku selama ini ternyata sia-sia. Ah, Mira, entahlah, aku pasrah kehendak-Mu saja Tuhan. Kalau Kau masih sudi mengampuni dia, Mira pasti akan ku temukan dan bisa kembali hidup normal sebagai perempuan yang bermartabat. Dan benar saja, di tengah keputus asaanku mencari, Mira tiba-tiba sms: “Temui aku di hotel A, sekarang.”

Aku segera meloncat ke motorku. Ku pacu kuda mesin bikinan Jepang itu kencang-kencang menuju tempat yang ditunjukkan Mira. Lima belas menit kemudian kami berdua sudah berhadap-hadapan di ruang lobi hotel tersebut.

“ Ma’afkan aku, Mas…….” ucap Mira berat. Wajahnya tertunduk membentur lantai lobi. “Aku tidak bisa menjalani nasehat Mas Bek.”
“Kenapa?” tanyaku sedikit penasaran. Naluriku menangkap sinyal tidak baik.
“Ternyata tidak gampang seorang pelacur bertobat, mas,” sambung Mira.

Aku menghela nafas. Ku tatap Mira dalam-dalam. Dan dengan perasaan marah aku simak ceritanya; Mira pulang kampung dan sudah tidak berniat kembali lagi bekerja sebagai PSK. Tetapi jangankan disambut gembira oleh keluarganya, dia malah dicaci maki dan diusir, bahkan ke dua anak yang lahir dari rahimnya pun tak diperkenankan menemuinya. Mira kembali ke Tuban, menemui beberapa orang yang dia kenal. Seorang terhormat yang kebetulan dia kenal karena sering memakai jasa layanan seksualnya bersedia membantu. Mira pun dikontrakkan sebuah kamar kost…..

“Tetapi janjinya memberi pekerjaan tidak pernah terwujud, mas. Yang dia lakukan setiap hari nelpon saya ngajak main di hotel. Pernah juga diajak menginap dua hari dua malam di Prigen. Semua memang dicukupi, Mas. Bahkan beberapa hari lagi dia akan nikahi sirri saya,” cerita Mira.

Aku terdiam, dan hanya bisa berdialog dengan asap rokokku.
“Pelacur seperti saya memang sudah harus bersyukur jadi istri simpanan, Mas. Mau ngapain lagi? Masyarakat sudah memvonis kami-kami para pelacur itu sebagai sampah yang tidak layak hidup bersama-sama seperti layaknya perempuan lain. Biarlah, akan saya jalani saja nasib ini,” kata Mira lirih. (bekti sudra kamajaya)


Beranda | RSS 2.0 | Kategori: Romantika | Tags: Trackback | 6 Comments

6 Responses to “Siapa Pilih Jadi Pelacur?”

  1. Minan says:

    Memang tepat brow apa yang saudara kemukakan bahwa pelacur bukan sebuah cita-cita seorang perempuan karena pelacur sudah dianggap masyarakat dan itu merupakan aib penyakit yng sangat memalukan, akan tetapi saya pribadi tidak pernah sepakat apa yang telah menjadi vonis masyarakat terhadap hal tersebut diatas. masalahnya apa brow..?
    (Bekti sudra kamandanu)

  2. Minan says:

    Wah ini malah menarik untuk bahan diskusi. karena apa brow saya sering mendebgar kata-kata atau kalimat Amal Ma’ruf Nahi Mungkar yang sering di uacapkan para tokoh agama di Planet Bumi ini akan tetapi ada sebuah pertanyaan yang hingga sekarang saya belum ada jawaban dari seseorang yang sering mengucap Amal Ma’ruf Nahi mMnkar.

    Kalau boleh saya usulkan kepada semua orang yang sering mengucap Amal Ma’ruf nahi mungkar tolong jangan hanya obrak-obrak orang lain untuk melakukan Amal Ma’ruf Nahi Mungkar akan teapi mari kita berfikir bahwa kita mampu berbuat secara riil yang mampu menghentikan satu orang saja dari puluann ribu orang yang telah menjadi pelacur (PSK.

    Akan petapi apa yang saya lihat dengan mata sendiri pada kenyataanya bahwa mereka-mereka yang sering mengucap Amal Ma’ruf Nahi Mungkar, tidak pernah memerintahkan agar anggotanya atau kelompoknya siap menikahi wanita yang menjadi pelacur. kenapa saya berdapat seperti ini…? Karena mereka sekalipun sering mengucap Amal Ma’ruf Nahi Mungkar tapi pada realita mereka tidak mau berbuat tentang kebaikan terkait pengentasan atau penghentian dari perbuatan yang hina untuk menjadi perbuatan yang MULIA YAITU MENIKAHI SEORANG PELACUR UNTUK DI JADIKAN ISTRI. karena apa saya pernah mendengar bahwa menikahi seorang pelacur dengan rasa penuh kasih sayang dan iklas demi Amal Ma’ruf Nahi Mungkar niscaya oarang itu menjadi PAHLAWAN KEBAJIKAN (Bukan saras 088).

    PERTANYAAN :
    1. APA RUGINYA KETIKA SESEORANG MENIKAHI PELACUR SEDANGKAN ITU TIDAK DILARANG OLEH AGAMA MAUPUN UNDANG-UNDANG.
    – Kira apa jawaban no 1. diatas
    2. APA UNTUNGNYA KETIKA SESEORANG MENIKAHI PELACUR SEDANGKAN ITU TIDAK DILARANG OLEH AGAMA MAUPUN UNDANG-UNDANG.
    – Jawaban : Untungnya kita sudah bisa merubah seseorang yang semula janda menjadi bersuami dll. (hal positif)
    Jangan sekali-kali kita merasa lebih suci daripada orang lain karena itu adalah KESOMBONGAN.

    Menjadi pelacur juga termasuk usaha untuk mencari nafkah. Karena hidup adalah perbuatan lebih baik berbuat atau usaha sekalipun usaha itu gagal daripada kita gagal tapi tidak pernah berusaha. (Bekti Sudra Kamandanu)

  3. bekti sudra kamajaya says:

    lha kok ada bekti sudra kamandanu ? apa ini saudara kembarku ya ?

  4. Minan says:

    Tidak Saudara kembar bos, cuman saudara sebangsa dan setanah air. Begituloh

  5. Sumari says:

    Setuju om minan…,,jarno sesok ono pak ustad nyari poligami di gandul

  6. paijan says:

    polllllllllllllllllll joooosssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss

Isi Komentar

*
  • Archives

 


©Copyleft 2011 - 2012 by sosialnews.com
Custom & Design: paradesain.net