Kencan Panti Pijat

17 - Jun - 2012 1:30 WIB | by: admin (6073 klik)
17-6-panti-pijat

Romansa – Aku tidak pernah mencurigai pekerjaan ibu, begitu sejak kecil memanggil dengan sebutan itu kepada Tante Elena yang merawatku sejak kelas satu SMP. Lagipula, aku pikir salon kecantikan merupakan tempat khusus untuk menata rambut dan wajah. Bukan untuk tempat lainnya yang kerap dinilai negatif.

Sementara itu, keisenganku menelepon panti pijat, pusat obat kuat atau pijat panggilan, tak lebih dari tidak adanya kegiatan yang kulakukan di rumah manakala sedang tidak kuliah. Dari iklan yang kubaca di
tabloid mingguan, iseng-iseng aku meneleponnya. Sungguh, aku hanya iseng saja. Aku tak pernah punya niat untuk membeli obat kuat. Atau, menikmati pijatan di panti pijat. Aku tak pernah punya uang untuk
melakukannya.

Aku tahu bahwa banyak pant pijat di Surabaya yang menjadi tempat prostitusi terselubung, dari berita di koran dan majalah. Karena penasaran dan ingin tahu apa saja yang dilakukan oleh pemijat, maka aku iseng-iseng menelepon ke sana.

Entah mengapa pula, aku mendapatkan keasyikan tersendiri dengan apa yang kulakukan itu. Belakangan ini aku malah merasa keisenganku itu telah menjadi hobi baru. Ya, hobi baru. Jika sehari saja tidak
menelepon ke panti pijat atau ke pusat obat, aku merasa ada yang hilang. Bahasa gampangnya hidup ini seperi hambar. Dan ketagihan. Padahal masa teleponnya, ya, paling lama hanya lima menit saja.
Sekadar melampiaskan rasa penasaranku. Untuk itulah aku selalu menggunakan nama dan alamat palsu.

Suatu siang aku menelepon sebuah panti pijat yang berada di kawasan daerah perbelanjaan di jantung kota. Yang menerimanya, seperti biasanya, seorang wanita. Iseng-iseng aku bertanya berapa tarif dan
bagaimana pula pelayanannya.

“Jika Abang booking untuk sejam, tarifnya Rp 65 ribu. Itu untuk kamarnya saja, ”Kata suara di seberang sana.
“Kalau begitu, berapa tarifnya untuk sekalian servis lainnya?” Tanyaku meyakinkan.
“Jika Abang mau, kami juga bisa dipanggil untuk pijat di hotel atau di rumah. Tapi, sebentar. Ini saya bicara dengan siapa?” Tanya wanita di ujung telepon. Suaranya renyah dan enerjik.
“Nama saya Bahtiar. Saya tinggal di Kaliasin Plemahan,” jawabku sekenanya.
“Lho, kalau begitu kita bertetangga dong. Kami juga berada dekat-dekat kawasan situ.”
Aku tahu wanita di telepon itu juga berbohong.
“Wah kebetulan kalau begitu. Kenalan boleh tidak?”

Wanita yang menerima teleponku itu mengaku bernama Dista, suaranya kali ini agak manja. Terus terang baru kali ini aku bicara panjang lebar dengan wanita yang bekerja di panti pijat, meski hanya
melalui telepon. Dista mengaku tinggal di Bratang. Statusnya singgel.

“Tetapi, usia saya sudah hampir 40 tahun. Abang sendiri umurnya berapa?”
Aku mengaku berumur 29 tahun.
“Wah, kalau begitu Abang pantesnya jadi adik saya saja,” katanya.

Aku tertawa menanggapinya. Anehnya, setiap hari aku jadi ingin menelepon Dista. Kadang-kadang aku sangat kecewa lantaran dia masih menerima pasien, ketika aku meneleponnya. Kalau sudah begini, aku
mengulang telepon lagi. Dari bibirnya keluar permintaan maaf karena dia tidak bisa menerima teleponku tadi sebab ada tamu.

Tak terasa aku dan Dista aktif bertelepon. Tentu saja akulah yang mengawali meneleponnya di tempat dia bekerja melalui operator.

“Maaf aku tidak bias menghubungi Abang. Aku nggak enak sama teman-temanku kalau menelepon Abang lebih dulu.

“Tidak masalah. Itu tidak penting.”
Aku berusaha mengerti kesulitannya. Diam-diam aku merasa menaruh perhatian khusus pada Dista. Aku tak tahu, inikah yang dinamakan cinta? Terus terang aku belum pernah jatuh cinta, hingga usiaku
menginjak 23 tahun. Aku sering tidak percaya diri untuk menaksir perempuan akibat kondisi keluargaku yang pas-pasan.

Aku juga tidak tahu, bagaimana perasaan Dista terhadapku setelah kami aktif berhubungan lewat telepon selama dua bulan belakangan ini. Yang pasti, Dista selalu merahasiakan alamat tempat tinggalnya.

“Belum waktunya Abang tahu rumah Dista. Suatu hari nanti pada saat yang tepat, saya pasti akan mengajak Abang ke rumah untuk kuperkenalkan kepada keluargaku,” ucap Dista.

Dista juga selalu menolak ketika aku ajak ketemu di luar jam kerjanya. Namun, tiba-tiba di suatu hari berikutnya, ia mau kuajak ketemu langsung.

“Kita ketemu di kafe hotel seberang Tunjungan saja. Abang tidak usah khawatir nanti saya yang bayarin semuanya,” katanya sambil tertawa kecil.

Kepada Dista aku memang mengaku jadi pengangguran. Aku hanya mengandalkan uang saku dari orangtuaku.

“Ayahku hanyalah karyawan swasta rendahan. Jadi, aku tidak pernah bisa menyimpan uang berlebihan,” kataku ketika suatu kali Dista menanyakan pekerjaanku.

Kami akhirnya sepakat bertemu di tempat yang dipilih Dista pada hari Selasa. Tepatnya jam satu siang. Kepada Dista aku mengaku akan memakai kaos oblong putih dan celana jins hitam bertopi pet.

“Aku tunggu Dista di pintu masuk lobi ya. Jangan lupa,” kataku lewat telepon dan Dista menyetujuinya.

Di pagi harinya, aku minta uang saku ibu Rp 30 ribu. Aku berani keluar rumah, karena ibu memang memilih libur kerja Hari Selasa.

“Tidak apa-apa kamu jalan. Ibu nanti juga akan pergi sebentar siang-siang,” kata ibu.

Ketika menuju hotel di Tunjungan, aku sengaja tidak memakai kaos oblong dan celana jins hitam, seperti yang kujanjikan pada Dista. Aku tidak ingin kecewa karena takut tidak tertarik pada Dista jika nanti
kami bertemu langsung.

Meski janji bertemu jam satu siang, tapi lima belas menit sebelumnya aku sudah berada di dekat pintu lobi hotel. Sifat isengku kambuh lagi. Aku sengaja berdiri agak jauh berbaur dengan para sopir taksi, untuk mengetahui apakah Dista benar datang atau tidak.

Selang beberapa menit kemudian, kulihat wanita setengah baya. Rambutnya cepak. Samar-samar tubuhnya mirip Tante Elena, ibuku. Tetapi aku membuang jauh-jauh dugaanku ini. Untuk apa ibu datang ke tempat ini sendirian. Tetapi, semakin dekat wanita itu dari tempatku sembunyi, maka aku berani memastikan bahwa wanita itu adalah ibuku.

Anehnya, ibu berpakaian persis seperti ciri-ciri yang diberikan Dista. Celana jins coklat dan kaos putih lengan panjang.

“Kalau bertemu nanti, rambutku akan kupotong pendek. Biar tidak malu
kalau ketemu kamu yang umurnya selisih jauh dengan Dista,” berkata Dista di telepon sehari sebelum kami bertemu.

Aku sangsi. Tetapi, kulihat pandangan ibu seakan mencari seseorang. Aku masih tetap menunggu. Namun, ibu tetap tidak beranjak dari tempat yang kujanjikan bertemu bersama Dista.

Karena penasaran, aku memutuskan untuk segera pulang. Ketika sampai di rumah, ibu tidak ada. Sedang pergi. Kata pembantu kami, ibu pergi beberapa menit berselang setelah aku ke luar rumah.

Aku segera masuk ke kamar tidurku. Aku bertanya-tanya di dalam hati. Benarkah wanita tadi adalah ibu?
Kalau memang benar adanya, berarti ibu adalah Dista yang bekerja di panti pijat. Tiba-tiba saja kepalaku merasa pening memikirkan hal ini.

Sekitar 25 menit kemudian terdengar langkah mendekat ke pintu kamarku. Terdengar suaranya memanggilku. Jantungku berdegup kencang.

Ketika keluar kamar, ibu telah berdiri tepat di depanku. Yang membuatku semakin pusing adalah potongan rambut ibu telah berubah. Kini ibu berambut cepak.

“Tadi, ibu potong rambut di tempat kerjaku. Rasanya panas kalau harus berambut panjang,” katanya.

Kulihat tubuh ibu dibungkus kaos putih lengan panjang dan jins coklat. Saat itu juga kepalaku semakin terasa pusing. (gregoria)


Beranda | RSS 2.0 | Kategori: Romantika | Tags: Trackback | 1 Comment

One Response to “Kencan Panti Pijat”

  1. ewin says:

    …ceritanya bagus, gan…

Isi Komentar

*
 


©Copyleft 2011 - 2014 by sosialnews.com
Custom & Design: paradesain.net