Panorama Bukit Mliwang

Boneka Rumput

1 - Jul - 2012 | by: admin
BONEKA RUMPUT 3

Romansa – Boneka rumput yang dirajut Sri Pipit untuk menggambarkan pacarnya yang bernama Paijan. Sosok yang sok tahu, super egois, dan hedon. Berjodoh kepelaminan karena hutang budi dan jasa sahabat bapaknya setelah lama saling berpisah, secara tak sengaja bertemu dan dijodohkan. Meninggalkan Darkup yang menemaninya sejak kecil.

Paijan nerocos sambil mondar-mandir mengitari Sri Pipit yang berteduh di bawah pohon pisang raja. Nada suara keluar, kadang pelan syahdu penuh rayuan, sesekali meledak menjebol kendang telinga yang indah hasil ukiran Tuhan. Sampai-sampai perawan itu menutup dengan kesepuluh jemarinya. Paijan menerangkan arti cinta, dari seluruh sudut penjuru mata angin hingga tidak ada sisa ruang yang dilupakan. Sri Pipit terdiam, tertunduk mendekap tumit sesekali menata rambut yang menjuntai di daun telinganya, namun tak hiraukan kebaya putih telur menyentuh tanah merah. Setelah matahari tepat menyentuh ubun-ubun, Paijan ngeloyor pergi, meninggalkan Sri Pipit dengan sejuta rasa tanpa makna. Lenggang lelaki egois itu tak menoleh sama sekali, sampai badan dempalnya ditelan fatamorgana.

Bunga pisang jatuh tepat mengenai ujung hidung Sri Pipit, yang membuatnya tersadar dari lelap sukma. Berjalan tertatih menuju semak-belukar yang sudah sebagian mengering akibat musim kemarau. Tangan perawan itu menjambak rerumputan kering setengah basah, didapatinya telah segenggam di tangannya. Sempat terpaku lama, lalu ia langkahkan kaki tak beralas menyisiri pematang, yang membimbingnya menuju sungai berbatu terindangi pohon nangka. Kemudian memilih duduk di bongkahan batu cadas ditengah aliran sungai yang masih sisakan gemericiknya, sambil sesekali menata kebaya terterpa angin singkap jahitan belah dada sampai ranum hampir menyembul. Kaki diselonjorkan hingga sebagian tungkai indahnya tercelup air.

Dia ingat akan semua kata-kata paijan sosok egois nan pengkoh, yang nerocos disemprotkan memenuhi kedua telinganya. Sri Pipit mengulang mengeja kata perkata, kalimat per kalimat, dan wajah yang tak mau meninggalkan kedua kelopak mata sayunya. Saat itu Paijan berkata, “Aku mencintaimu dan aku tahu kamu juga mencintaiku, tapi tak serta merta aku hapuskan egoisku, jabatanku, kekayaanku, kehormatanku serta gengsi keluargaku untuk seperti apa yang kamu inginkan. Kamu cantik, kamu sexi, namun itu tak cukup mampu menerima egois metropolisku serta gaya hedon komunitas socialityku. Hai kamu Sri Pipit kampungan!”

Di antara gemericik air sungai gemericik pula derai air mata Sri Pipit, ditaruhnya rerumputan yang ada digenggaman pada jejang paha. Sri Pipit mulai menganyam satu demi satu batang rumput, untuk diwujudkan menjadi boneka rumput mirip si egois itu. Ditimang berhadapan persis sampai sentuh hidung nan indah sambil berkata, “Apapun kamu, aku mencintaimu sampai mati, titik.“

Bergegas, tunggang-langgang Sri Pipit mendengar teriakan Si Mboknya dari tepi sungai.
“Ada apa Mbok? tanya Sri Pipit
“Ada tamu sahabat bapakmu dari luar daerah, Nduk“ jawab si mbok.

Dengan langkah cepat mereka berdua menuju rumah, dan tak sadar boneka rumput hanyut di aliran jeram sungai permukaan kawasan kapur. Dengan polos sambil berjalan simbok bercerita “Nduk bapakmu dulu semasa remaja mempunyai sahabat, kemana saja pergi, mereka selalu berdua, sampai keduanya menikah baru berpisah, dan sekarang baru ketemu lagi,“ kata si Mbok, untuk menjawab rasa penasaran diraut muka anak gadisnya itu.

Mereka berdua masuk melalui pintu belakang rumah, langsung terhubung dengan dapur. Si Mbok nyalakan api di tungku, sementara Sri Pipit ke kamar mandi bersihkan badan. Dengan nampan mereka berdua beriringan membawa teh hangat dan pisang rebus untuk disuguhkan tamu bapaknya. Subhanallah….ketika menyibak kelambu ruang tamu, Sri Pipit terkejut bukan kepalang pada sosok salah satu tamu bapaknya, Sri Pipit tersenyum sambil merunduk agar segera dapat menguasai diri lalu menyuguhkan jamuan.
”Nduk ini Pak Eko sahabat bapak masa remaja dahulu dan anaknya,“ cerita bapaknya.

“Begini Nduk, maksud Pak Eko kemari disamping menyambung silaturahmi yang lama terputus, kami berdua juga ingin mewujudkan ikrar yang kami sepakati saat itu,“ lanjut bapaknya yang semakin membuat penasaran Sri Pipit.

“Begini ceritanya, saat kami sama-sama masih remaja dahulu, pada suatu hari kami berdua menonton pertunjukan orkes dangdut dalam rangka hari kemerdekaan, ditengah asyik kami berjoget secara tidak sengaja kami bersenggolan dengan kelompok pemuda lain daerah, lalu terjadi salah paham berlanjut ke perkelahian hebat,“ bapak dan sahabatnya hanyut dalam keheningan, lama…

Bapaknya lalu meneruskan ceritanya, “Bapak berdua dikeroyok puluhan pemuda tersebut, Pak Eko mampu merobohkan beberapa pemuda, sementara bapak terjatuh terkena pukulan, lalu secara membabi-buta beberapa pemuda menghujani dengan pukulan, tendangan bahkan sabetan rantai gergaji kayu. Dengan tidak menghiraukan keadaan, Pak Eko mampu menyelamatkan bapak dibawa lari menghindar, sampai kami beristirahat di bawah pohon pisang raja diujung desa. Kemudian untuk membersihkan luka-luka yang kami berdua alami di bawah pohon nangka pada sebuah batu besar tengah sungai,“ tiba-tiba Bapak memotong cerita sambil mempersilahkan tamunya menikmati hidangan.

Sri Pipit masih tetap menunduk tepekur, sejuta rasa mengaduk-aduk dadanya akibat sosok anak sahabat bapaknya. Tak lama bapaknya melanjutkan, “Ditempat terakhir kami berikrar suatu saat apabila mempunyai anak, akan kami jodohkan,“ disambut manggut-manggut Pak Eko. Tangan bapak yang kokoh dan kasar sebagai buruh tani tiba-tiba mendarat di pundak kiri Sri Pipit, “Nnduk, bapak berhutang budi bahkan nyawa pada Pak Eko, dan bulan depan kamu akan saya nikahkan dengan Paijan anak Pak Eko, sebagai pemenuhan ikrar kami, bagaimana kamu mau kan, Nnduk?” harap bapaknya.

Sri Pipit masih diam, dengan menunduk, Sri Pipit beranjak memasuki kamar diikuti ibunya. pesta pernikahan Sri Pipit dan Paijan yang sudah direncanakan berlangsung dengan lancar, kerabat kedua mempelai dan para undangan nampak bergembira.

Mempelai berdua, Sri Pipit dan Paijan memasuki peraduan kamar pengantin, tak ada kata yang terucap dari mulut mereka, Sri Pipit masih tetap diam menunduk demikian juga Paijan. Entah siapa yang memulai keduanya bergumul memadu kasih sampai terkapar sama-sama. Kokok ayam kampung membangunkan Sri Pipit, masih dalam pelukan Paijan. Sri Pipit melamunkan perjalanan yang dia alami dengan rentetan cerita bapaknya, dari kesamaan tempat-tempat yang disinggahi dan sosok lelaki egois, tapi dicintainya setengah mati. Perlahan tangan kekar Paijan digeser dari tubuhnya lalu duduk di tepi ranjang.

Sri Pipit terkejut bukan kepalang di atas meja sudut kamar di antara hadiah kado bertumpuk, terlihat boneka rumput yang pernah dia rajut untuk sikap super egois pacarnya yang meninggalkan begitu saja di bawah pohon pisang raja, membuat air matanya mengucur sederas jeram sungai dan sekarang orang tersebut menjadi suaminya yang masih terbaring lelap. Perlahan diambil boneka tersebut ditimang dipandangi dan diambil kertas yang terselip lalu dibaca, “Semoga bahagia pacar kecilku“ tertanda Darkup. Darkup adalah teman kala kecil yang dengan setia menggendongnya menyeberangi sungai saat pergi dan pulang dari sekolah dasar. Sri Pipit merenung bergumam dalam hati “jodoh tak dapat memilih tapi pilihan yang bukan pilihan, maaf boneka rumputku dan maafkan aku “Darkup.” * ( at )


Beranda | RSS 2.0 | Kategori: Romantika | Tags: Trackback | 0 Comments

Isi Komentar

*
  • Archives

 


©Copyleft 2011 - 2012 by sosialnews.com
Custom & Design: paradesain.net