Panorama Bukit Mliwang

Bubur Mundhor Sajian Buka Puasa dari Kampung Arab

24 - Jul - 2012 | by: admin
24-7 bubur masjid mundhor

TUBAN, sosialnews.com – Puluhan warga dari berbagai kelurahan Kecamatan Kota Tuban, rela berdesak-desakan dan mengantri demi untuk mendapatkan Bubur Mundhor di Masjid Al-Mundhor Keluarahan Kutorejo, Kota Tuban, secara gratis. Bubur yang dibagi setiap sore menjelang berbuka puasa di masjid Al- Mundhor Jl. Pemuda Kelurahan Kutorejo, merupakan tradisi turun temurun leluhur mereka, “Yang jelas kita bagi setiap jam 17.00 untuk masyarakat,” ungkap Agil Bunuway Ketua Takmir Masjid Al- Mundhor. Selasa (24/07)

Bubur yang dibuat langsung warga keturunan arab, ini disajikan sebagai takjil berbuka puasa dan uniknya pembuatan bubur tersebut semua dikerjakan oleh orang laki-laki, dengan rasa khas yang lezat, “Ini merupakan tradisi sejak zaman penjajahan belanda sekitar tahun 1930,” lanjut Agil.

Ratusan warga rela mengantri demi untuk mendapatkan bubur, sambil menenteng sebuah piring dan mangkok demi untuk mendapatkan jatah bubur makanan khas Arab serta masakan dengan bumbu khas orang Arab tersebut.

Diantara bahannya adalah beras yang di campur dengan bumbu gule ditambah dengan santan dan dipanasi, kemudian setengah mendidih dimasukin daging ayam dan rempah-rempah dan langsung di aduk hingga merata, dan aroma khasnya yang menyerbak hidung inilah yang dinanti puluhan warga yang mengantrinya sebelum kemudian dibagikan secara merata.

Biasanya mereka memulai memasak sekitar jam 13.00 siang, hingga sampai jam 16.00. langsung di kerjakan di depan halaman masjid Al-Mundhor hingga langsung bisa ditonton semua warga yang melintas di jalan tersebut, dengan menggunakann tungku berukuran setinggi 1 meter melalui perapian sebuah elpiji, sungguh proses pembuatan yang cukup sederhana sekali.

Sedangkan salah satu tradisi yang tidak bisa ditinggalkan oleh keluarga kampong Arab yang tinggal di Keluarahan Kutorejo ini, lantaran ini merupakan adat dari nenek moyang mereka, “Pembuatan dan pembagian bubur ini sudah menjadi tardisi keluarga kami sebelumnya, untuk member takjil kepada umat Islam yang sedang menajalankan ibadah puasa,” jelas Agil.

Selain itu, masih menurut Agil Bunuway, jika dahulunya masyarakat Islam hidup pada zaman penjajahan Belanda, adalah untuk memberikan dukungan terhadap para tentara yang melawan Belanda pada zaman itu, demi berjuang menegakan kemerdakaan Indonesia saat Bulan Ramadhan yang dengan cara seperti yang dilakukan sekarang ini, yakni memberi dukungan spiritrual kepada para pejuang yang telah mendahului kita bersama. (ayik)


Beranda | RSS 2.0 | Kategori: Religi | Tags: , Trackback | 0 Comments

Isi Komentar

*
 


©Copyleft 2011 - 2013 by sosialnews.com
Custom & Design: paradesain.net