Pengrajin Batu Bata Hidup Terbata-bata

7 - Jun - 2012 2:03 WIB | by: admin (208 klik)
7-6-batu-bata

Sosialnews.com, Tuban – Pengrajin Batu Bata Hidup Terbata-bata. Ditengah geliat maraknya pembangunan perumahan, pengrajin batu-bata di Desa Kesamben Kecamatan Plumpang sebagai penyedia, justru tidak bisa ikut menikmati manisnya. Tumpukan batu-bata ternyata tidak mampu menghasilkan tumpukan uang yang cukup sebagai imbalan jerih payahnya.

Hari masih pagi, matahari pun baru saja menampakkan sinarnya tapi sepasang tangan Riani janda 60 tahun ini, telah kotor oleh tanah liat dengan air. Jemari perempuan itu lincah mencampur tanah liat dan air menjadi adonan yang nantinya dicetak menjadi batu-bata. Kucuran keringat di kening tak akan membuat patah semangat, ini adalah gambaran salah satu dari ratusan pengrajin batu-bata di Kabupaten Tuban.

Proses pembuatan batu bata melalui beberapa tahapan, diawali dengan mengumpulkan tanah liat/lempung lalu dijadikan bahan baku dengan di aduk-aduk menggunakan kaki atau tangan, yang terlebih dulu dicampur air sampai adonan tanah liat betul-betul siap untuk dicetak sesuai ukuran. Batu-bata yang sudah dicetak, kemudian menunggu proses pengeringan, selanjutnya ditata ke dalam tungku untuk pembakaran membutuhkan waktu sekitar satu minggu guna mencapai hasil yang maksimal. “Kalau saya sekali bakar 5000 biji,setelah sekitar seminggu lebih mencetaknya,“ cerita Riani pada Hari Minggu (03/06). “Butuh satu truck sekam, agar batu-bata matang semua,“ tambahnya.

Dari berbagai tahapan produksi batu-bata dapat ditentukan harga pokok per satu batu bata yaitu Rp. 350 dan bila diantar sampai tujuan untuk luar daerah yang jauh dari tempat produksi harganya tambah Rp 50 untuk biaya angkutan dan bongkar muat. “Biasanya masyarakat membelinya perseribuan biji, ada yang diambil ada juga yang minta diantar ketempat pemesan mas,“ ujar Sunarti 42 tahun. “Saya mempunyai dua pekerja, dan penghasilan mereka rata-rata Rp. 30.000/hari “ tambahnya. ”Sebetulnya ya mepet mas, kalau Cuma harga segitu, bagaimana lagi wong ini kerjaan yang ada,“ timpal Sumi 52 tahun janda beranak tiga tersebut. ”Kalau musim hujan ya saya nyambi kesawah buruh tani, seperti matun (bersih rumput), ngedos (merontokan padi ), yang penting ada penghasilan untuk makan anak-anak, mas,“ timpal Dasuri duda beranak dua.

Apa yang dialami para buruh pembuat batu-bata tersebut masuk dalam kategori keluarga miskin, diantara salah satu contoh realitas kehidupan yang tersebar di Kabupaten Tuban, sebagai indikator penguat masih banyak adanya penyandang masalah kesjahteraan sosial di kabupaten yang kaya akan sumber daya alam yang dieksploitasi industri besar . Kondisi seperti ini seyogyanya menjadi perhatian pemerintah untuk mendapat prioritas kemudahan tersentuh dengan program-program sosial.

Riani janda renta 60 tahun kala di kofirmasi contributor sosialnews com di lokasi kerjanya.tentang kendala dalam usahanya tersebut mengatakan, ”Gangguanya sejak ada pertambangan batu kumbung (batu-bata kapur) di gunung berdiri, pasaran dan pesanan batu-bata menurun dratis , sangat jauh jika dibandingkan sebelum adanya pertambangan gunung,“ cerita panjang lebar.

Dari pantauan sosialnews, kegiatan usaha-batu bata selain menyebar di Kecamatan Plumpang,Rengel, Bancar dan Jatirogo, termasuk Kenduruan, semuanya mempunyai kesamaan tahapan produksi, pemasaran dan persaingan produk lain, namun yang membedakan adalah beberapa kualitas hasil dibarengi harga yang lebih tinggi.

”Pemakaian bahan bangunan dengan batu-bata akan dapat menekan secara drastis kerusakan pada kawasan karst (batu kapur) yang terus menyebar digali dan dipotong-potong untuk bahan bangunan, kita tahu semua kawasan pegunungan kapur adalah tandon air raksasa bawah permukaan “ kata diretur CAGAR Edy toyibi.
“Ada dua keuntungan besar jika produksi batu-bata dari tanah liat ini didorong menjadi konsumsi bahan bangunan, yang pertama dampak tekanan lingkungan dikawasan hulu yang didominasi gunung kapur sudah jenuh oleh eksploitasi dapat dikurangi, kedua kesejahteraan keluarga miskin pekerja batu bata tanah liat dapat membaik dan nasib hidupnya tidak terbata-bata,“ papar edy dengan serius. ”Ini solusi lingkungan juga solusi sosial yang paling elegan di Tuban,“ kata aktivis lingkungan ini mengakhiri perbincangan. * (at )


Beranda | RSS 2.0 | Kategori: Peristiwa | Tags: Trackback | 1 Comment

One Response to “Pengrajin Batu Bata Hidup Terbata-bata”

  1. Achmad Rifai says:

    Setuju, Pak Edy. Dan tidak hanya itu, bila pengrajin batu bata disinergikan dengan kondisi lahan pertanian di Tuban di mana banyak berupa lahan tadah hujan. Jika ada upaya untuk membuat embung-embung mikro dilokasi lahan tadah hujan, itu akan menambah kesempatan kerja warga dan membantu para petani sekaligus mendidik para petani untuk mengkonservasi air, musim tanam bisa diperpanjang meskipun sudah masuk kemarau karena petani masih punya persediaan air dan akan menambah cadangan resapan air tanah. Butuh kreativitas untuk memecahkan kebuntuan masalah dan kesungguhan upaya.

Isi Komentar

*
 


©Copyleft 2011 - 2014 by sosialnews.com
Custom & Design: paradesain.net