Ayam Aduan Tuban Melanglang Sampai Malaysia

8 - Sep - 2012 13:12 WIB | by: admin (1626 klik)
8-9 ayam aduan

TUBAN, sosialnews.com – Tak salah jika ada yang bilang Tuban adalah kota keramat. Bukan saja lantaran banyaknya makam auliya’, orang-orang suci penyebar agama Islam itu. Juga bukan saja di Tuban banyak “perguruan” ilmu kanuragan dan kebatinan yang konon lebih “bertuah” ketimbang di tempat lain. Banyak lagi keistimewaan-keistimewaan kota peninggalan Majapahit dan sempat menjadi kota metropolitan sampai dengan berdirinya Mataram Islam di bawah pimpinan Panembahan Senopati ini. Salah satunya, ayam aduan. Di kalangan pecinta ayam aduan, ayam dari Tuban dipercaya memiliki keunggulan dibanding ayam-ayam aduan dari daerah lain.

“Ayam aduan dari Tuban, katanya, tidak mudah menyerah. Meski sudah babak belur dihajar lawannya, masih saja berani bertarung, nggak lari meninggalkan arena. Malah lawannya yang justru jadi kelelahan dan akhirnya lari,” kata Budi Prasojo, peternak ayam aduan.

Budi sendiri mengaku belum pernah melihat ayam aduan kelahiran Tuban bertarung di kota lain dengan ayam setempat. Ia memang beberapa kali sempat menyaksikan ayam-ayam aduannya keluar sebagai pemenang saat diadu dengan ayam dari kota lain. Tetapi menurutnya itu bukan faktor asal-usul kelahiran ayam yang menjadi penentunya. “Ayam aduan itu punya keistimewaan masing-masing. Memang ada jenis-jenis ayam yang ditakdirkan menjadi jagoan, misalnya ayam yang disebut Jago Suara. Tapi itu berdasar fisik, bukan asal-usul,” jelas Budi.

Namun sesuatu jika telah menjadi kepercayaan memang sangat sulit untuk diabaikan. Budi-pun tak terlalu ambil pusing dengan semua yang menurutnya lebih sebagai mitologi daripada realita itu. Justru ia mengaku sangat diuntungkan dengan mitos tersebut. Harga ayam aduan hasil penangkarannya pun terdongkrak. Bahkan ayam aduan yang sudah pernah memenangkan pertarungan harganya bisa sampai Rp 2 juta/ekor. Sedang untuk ayam-ayam aduan yang belum pernah di”abar” (diadu), rata-rata berkisar Rp 500 ribu – Rp 1 juta/ekor. “Ya tergantung kondisi fisiknya. Kalau fisiknya bagus, ya mahal, tapi nggak sampai Rp 2 juta,” kata Budi.

Pembelinya pun tak sebatas penggemar ayam aduan di Kabupaten Tuban. Penggemar ayam aduan dari daerah lain semisal Madura, Lumajang, Surabaya bahkan Kalimantan dan Bali juga sering membeli ayam-ayam aduan ternakan Budi. Malahan tak sedikit pula yang konon dibawa ke Negeri Jiran Malaysia.

Sutoyo, penjual ayam kampung di Pasar Baru Tuban mengatakan hal serupa. Ia mengaku sering mendapat pesanan ayam aduan dari penggemar ayam aduan asal Madura, Surabaya dan sejumlah kota lain. Warga luar daerah yang tinggal di Tuban pun tak jarang membawa ayam jantan dari Tuban untuk dijual di daerah asalnya. “Harganya bisa tiga kali lipat kalau di luar Tuban. Ayam jantan yang nggak aduan dari sini saja bisa laku Rp 250 ribu di Madura, padahal beli di Tuban cuma Rp 60 ribu,” kata Jaini, warga Madura yang mengaku telah menetap selama 10 tahun lebih di Tuban.

Para spiritualis juga membenarkan bila ayam jantan asli Tuban memang kesohor memiliki keistimewaan. Dari sisi spiritual, kata Kang Dani, salah seorang spiritualis Pondok Pesantren Sunan Bejagung, Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, ayam jantan memang memiliki aura berbeda. Tidak semua ayam jantan bisa dijadikan ayam aduan. Bahkan ada beberapa jenis ayam jantan yang diyakini memiliki kekuatan spiritual dan sama sekali tidak boleh diadu.

“Ayam jantan yang warna bulunya putih semua atau putih mulus, sampai kaki dan jenggernya juga putih, apalagi kalau membentuk mahkota sanggar delima, menurut keyakinan memiliki aura ghaib luar biasa. Ini jenis ayam paling bagus, bahkan konon bangsa lelembut saja takut sama ayam ini. Makanya tidak boleh diadu karena lawannya pasti akan mati,” papar spiritualis yang lebih suka dipanggil Kang Dani ini.

Tentang kepercayaan ayam jantan Tuban yang tahan banting di arena, Kang Dani mengaku tidak bisa menjelaskannya. Menurutnya itu hanya sebuah kepercayaan yang terlanjur diyakini sehingga menjadi sugesti bagi para penggemar ayam aduan. “Ya mungkin saja itu sebagai simbol dari orang Tuban yang nggak pernah mudah menyerah pada lawan. Tapi itu semua cuma sugesti,” kata Kang Dani.

Tapi, apapun alasannya, mitos itu tetap memiliki nilai lebih bagi peternak ayam kampung di Tuban. Setidaknya pangsa pasar ternak ayam mereka tak akan terebut, lantaran ayam aduan bisa menjadi ayam aduan yang unggul ketika ditangkarkan di Tuban. Wallahu’alam. (Bekti Sudra Atmaja)


Beranda | RSS 2.0 | Kategori: Peristiwa | Tags: Trackback | 1 Comment

One Response to “Ayam Aduan Tuban Melanglang Sampai Malaysia”

  1. pusporogo says:

    ayam tarung lokal sebenarnya…ada tetapi kita, malu mengatakan…takut..harga ayam lokal/ ayam kita jatuh. Sepajang yang aku alami sekitar tahun 1973 …sudah pernah dekat sekali dg ayam- ayam ini buktinya …meski tidak dari bangkok, ayam ayam2 cukup laku diantara para bebetoh, ya saat lumayan untuk bantu2 ibu bar spp sekolah. Aku tidak pernah memperoleh ayam dari import..
    Sekarangpun aku masih tetap pelihara ayam mseki jenis dari lokal… dari ayam jakarta, dan dari semarang ko…dg ayam lokal.
    Ayam lokal tidak ubahnya sama dengan ayam import, bedanya pada kokok lebih panjang, ekor ayam lokal cederung ideal, tidak panjang..soal warna dalam hal ini ules sama, yang aku aneh sekarang banyak ayam brumbun…dikatakan dari saigon…padahal ayam ini dulu kenal dari ngantang-malang….telurnya banyak, dangingnya seperti ayam kalkun…ya perkembangan .zaman begitu cepat…
    Untuk penghobi ayam jangan memelihara ayam petarung yang bermata merah…ini hanya pengalaman saja. Ayam yang paling kuat adalah ayam yang sayapnya tidak bisa dibuka…. selama ini satu kali ayam pernah pelihara…demikian pengalaman aku memelihara ayam.

Isi Komentar

*
 


©Copyleft 2011 - 2014 by sosialnews.com
Custom & Design: paradesain.net