Panorama Bukit Mliwang

Pemkab Masih Abaikan Perpustakaan

25 - Jul - 2012 | by: admin
25-7 perpustakaan tuban

TUBAN, sosialnews.com – Pemkab masih abaikan perpustakaan. Bangsa yang berbudaya besar tidak pernah mengabaikan perpustakaan, demikian seorang ahli pernah menyatakan. Sejarah memang mencatat, bangsa-bangsa tempat lahirnya peradaban seperti Yunani, Cina, Arab dan Persia, memiliki perpustakaan yang luar biasa. Demikian tingginya perhatian bangsa-bangsa itu terhadap perpustakaan, buku-buku yang tersimpan ratusan tahun lalu itupun masih terawat sampai sekarang.

“Itulah sebabnya bangsa-bangsa tersebut sangat jelas alur sejarahnya, tidak gelap seperti sejarah yang kita miliki. Artinya, apa yang pernah terjadi dan berhasil dicapai nenek moyang bangsa-bangsa itu bisa diketahui dengan rinci karena terdokumentasikan dengan baik. Sedang kita, untuk melacak sejarah Majapahit yang relatif lebih muda saja kesulitan,” papar Agustina Umiyati, Kepala Seksi (Kasi) Perpustakaan, Kantor Perpustakaan, Kearsipan dan Dokumentasi (PKD) Pemkab Tuban, Selasa (24/7) kemarin.

Agustina Umiyati dengan tegas menampik pendapat bahwa minimnya penghargaan terhadap perpustakaan disebabkan main stream budaya bangsa Indonesia bukan budaya tulis. Menurut Agustina, hal itu sama sekali tidak benar dan menyesatkan, karena bukti sejarah menunjukkan budaya tulis telah berkembang bahkan sejak bangsa Indonesia ada.

Menurut pandangan Agustina, minimnya perhatian terhadap perpustakaan selama ini dikarenakan main stream politik yang lebih mengedepankan politik partisan ketimbang pembangunan secara menyeluruh dan dalam arti yang sesungguhnya. Agustina menunjuk bukti, animo masyarakat terhadap perpustakaan sebenarnya sangat tinggi. Menurut catatannya, rata-rata tidak kurang dari 200 orang berkunjung ke perpustakaan per harinya. “Pada hari libur sekolah, pengunjungnya bahkan dua kali lipat dari jumlah itu,” tambahnya.

Dari jumlah tersebut, lanjut Agustina, memang sebagian besar pelajar. Tetapi bila dilihat dari nominalnya, angka kunjungan non pelajar pun lumayan tinggi. Bahkan dua perpustakaan pembantu yang didirikan di Kecamatan Rengel dan Jatirogo pun tak pernah sepi peminat. “Lebih menggembirakan lagi, saat mobil library atau perpustakaan keliling kami masuk ke desa-desa, sambutan masyarakat pun luar biasa antusias. Bukan hanya anak-anak yang masih sekolah, orang-orang dewasa pun tak sedikit yang menjadi anggota perpustakaan keliling itu agar bisa meminjam buku yang kita bawa,” jelas Agutina.

Hanya saja antusiasme masyarakat yang sangat tinggi itu tidak diimbangi pelayanan maksimal. Agustina berdalih, pihaknya belum mampu memaksimalkan pelayanan lantaran masih sangat terbatasnya alokasi anggaran yang diberikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) untuk Perpustakaan. Tahun ini, Pemkab mengalokasikan anggaran sebesar Rp 202 juta. “Sebagian besar habis untuk belanja pegawai. Tenaga honorer kita banyak sehingga sebagian besar anggaran terserap ke situ. Perpustaakaan ini dipandang sebagai bidang yang kurang penting dan tidak perlu keahlian khusus, makanya selalu menjadi penampung tenaga honorer,” keluh Agustina.

Sampai hari ini, Perpustakaan milik Pemkab itu memiliki koleksi sebanyak 42 ribu eksemplar, termasuk majalah. Sebagian besar koleksi buku-buku peninggalan zaman baheula. Hanya beberapa judul buku baru yang terlihat menghiasi rak perpustakaan itu. “Kita sudah tiga kali mengajukan anggaran untuk menambah koleksi dan pembuatan e-library sebesar Rp 120 juta. Tetapi selalu ditolak. Alasannya anggarannya masih untuk program-program prioritas,” kata Agustina.

Akibat terbatasnya anggaran ditambah tenaga-tenaga yang kurang begitu terdidik dalam kepustakaan, wajar apabila Perpustakaan milik Pemkab itu belum bisa memberi pelayanan terbaik pada masyarakat. Bukan hanya koleksi yang cenderung itu-itu saja, tetapi penataan koleksi pun kurang rapi sehingga sedikit menyulitkan pengunjung mencari judul buku yang dikehendaki. “Sering buku yang saya butuhkan gak ada di raknya, setelah dicari ternyata nyelip dirak lain, di antara buku-buku yang masuk klasifikasinya,” kata Wahyu, salah seorang pengunjung.

Wahyu berrharap Pemkab lebih memperhatikan Perpustakaan karena di tempat inilah masyarakat bisa belajar banyak pengetahuan. Terlebih pertumbuhan industri di Tuban terbilang sangat pesat. “Perkembangan itu harus diimbangi dengan penyediaan sarana menuntut ilmu agar SDM masyarakat mampu ditingkatkan. Perpustakaan ini adalah solusi termurah ketimbang harus ngadakan pelatihan-pelatihan yang terbukti tidak pernah bisa diaplikasikan,” komentar Wahyu.

Wahyu memandang modernisasi perustakaan memang sudah sepatutnya dilakukan. Menurutnya, sangat tidak bijak apabila Pemkab dan DPRD menolak usulan anggaran e-library karena itu akan memudahkan masyarakat mengakses buku-buku yang tersimpan di perpustakaan. Sayangnya, sosialnews.com sendiri belum berhasil mendapat penjelasan dari Komisi C DPRD Tuban yang membidangi urusan ini, mengapa anggaran untuk itu selalu ditolak. (Bekti Sudra Atmaja)


Beranda | RSS 2.0 | Kategori: Pendidikan | Tags: , , Trackback | 0 Comments

Isi Komentar

*
  • Archives

 


©Copyleft 2011 - 2013 by sosialnews.com
Custom & Design: paradesain.net