Panorama Bukit Mliwang

Semangat Entrepreneur Berkah Ramadhan

29 - Jul - 2012 | by: admin
29-7 jajanan

OPINI – Bulan Ramadhan datang membawa berkah dari segala arah. Bagi sebagian warga Ramadhan adalah bulan penuh rezeki. Karena sebagian dari mereka mendapatkan limpahan rezeki justru saat bulan-bulan ramadhan.
Tidak sedikit dari warga melihat suasana ramadhan lahir ide, gagasan, dan semangat baru yang mendatangkan rezeki bagi mereka. Entah hal itu disadari atau tidak. Menurut Scarborough dan Zimmerer (1993:5), entrepreneur adalah orang yang menciptakan suatu bisnis baru dalam menghadapi risiko dan ketidakpastian dengan maksud untuk memperoleh keuntungan dan mengkombinasikan sumber-sumber daya yang diperlukan untuk memanfaatkan peluang.

Kalau kita melihat pada sore hari menjelang buka puasa misalnya, sepanjang Jalan Basuki Rahmat, Sunan
Kalijogo hingga Letda. Sucipto Kota Tuban berderet di tepi-tepi trotoar banyak pedagang-pedagang dadakan dan musiman menjajakan barangnya. Mungkin hal serupa juga terlihat di kota lainnya. Dari mereka ada yang sekedar berjualan bekal ta’jil (red: kebutuhan makanan untuk berbuka puasa ramadhan), pernak pernik bulan ramadhan, hingga kebutuhan untuk perayaan idul fitri. Lebih menariknya lagi dari apa yang mereka jajakan kebanyakan dari hasil kreatifitas masyarakat sendiri, mulai makanan khas suatu daerah, inovasi aneka rupa jajanan dan cemilan. Dan di antara mereka tidak memandang usia, jenis kelamin bahkan status sosial, semua bangkit menjadi wirausaha dalam semaraknya ramadhan.

Berkah bulan ramadhan mereka berwira usaha. Mereka para entrepreneur dadakan muncul tanpa ada yang menyuruh, lahir tanpa ada yang membimbing, mereka berjualan tanpa ada paksaan. Semua terjadi secara alami, tercermin dari cara dan gaya mereka berusaha, terkesan seadanya dan sebisanya. Kalau kita perhatikan lebih jauh lagi lahirnya mereka sebenarnya unik dan menarik, dan sekali lagi mereka hanya terlahir dari rahim suasana ramadhan.

Di sini kami melihat lahirnya sebuah semangat masyarakat menjadi entrepreneur, meski hanya sesaat selama bulan ramadhan. Bukan melihat dari cara atau gaya mereka berwira usaha, atau dari cara mereka mengawali usaha. Dan juga terlepas dari pandangan karena sifat latah-nya masyarakat kita yang cenderung “niru” kalau melihat hasilnya enak banyak yang niru atau memang benar-benar lahirnya di atas kesadaran mereka menganalisa, jeli dan cerdas melihat peluang dan kesempatan yang ada. Yang pasti mereka berani.
Semangat mereka adalah modal. Modal bagi semua pihak, khususnya bagi pemerintah daerah dalam rangka membangun masyakat yang adil, makmur dan sejahtera dengan kemandiriannya. Semangat entrepreneur itu nampak sekali, seakan mejelaskan potensi tersembunyi dalam diri masyarakat kita.

Namun hal itu sangat disayangkan, kalau mereka para “entrepreneur dadakan” lahir di pinggir-pinggir trotoar. Keberadaan mereka tanpa aturan, banyak dari mereka memilih berjualan di atas fasilitas umum, terkesan semrawut. Hal semacam itu justru menimbulkan pemandangan yang kurang simpatik.

Berharap perhatian dari pihak-pihak terkait untuk mencarikan solusi, dan seyogyanya potensi itu menjadi pemicu bagi semua pihak khususnya bagi pemerintah. Karena pemerintah-lah yang memiliki segalanya. Mereka memiliki seperangkat aturan, kekuasaan dan kewenangannya dapat memanfaatkan potensi tersebut secara terencana, terarah dan berkesinambungan. Banyak contoh yang dahulu lahir tidak terencana, lahir karena momentum sesaat, tetapi kuatnya semangat itu dapat dikelola dengan baik oleh semua pihak akhirnya muncul pasar Kota Gede Jogyakarta, Pasar Kembangsari Surakarta, Pasar Malioboro dll.

Semoga lahirnya para entrepreneur dadakan di bulan ramadhan dapat menjadi awal kebangkitan masyarakat kita untuk meraih kesejahteraan di atas kemandiriannya. Pemerintah diharapkan dapat melihat kesempatan itu dengan arif dan bijak. Bagi mereka adalah berkah tetapi bagi yang lainnya bisa jadi musibah karena keberadaan mereka tanpa aturan, berdiri di atas fasilitas umum, terekesan semrawut dan mengganggu aktifitas masyarakat yang lain. Semoga dapat menjadi lebih baik. (mundir)


Beranda | RSS 2.0 | Kategori: Opini | Tags: Trackback | 0 Comments

Isi Komentar

*
  • Archives

 


©Copyleft 2011 - 2013 by sosialnews.com
Custom & Design: paradesain.net