Panorama Bukit Mliwang

DPK : Anggas Cuma Alat Bantu Tangkap

27 - Jul - 2012 | by: admin
27-7 perahu nelayan

TUBAN, sosialnews.com – Nelayan di perairan Tuban nampaknya harus menambah kapasitas kesabarannya. Terhambatnya aktivitas penangkapan ikan, menurut pandangan Dinas Perikanan dan Kelautan (DPK) Pemkab Tuban, bukan semata-mata diakibatkan aktivitas industri. Kepala Seksi Pengembangan Hasil Perikanan DPK Tuban, Aning Bekti, menyebut faktor utama pengganggu produktivitas nelayan adalah iklim. “Anomali iklim yang menyebabkan cuaca sulit diprediksi yang menjadi sebab utama nelayan tidak bisa maksimal melaut,” kata Aning Bekti, Juma’at (27/7).

Aktivitas industri seperti pembangunan pelabuhan, Pipe Line dan Floating Storage Off (FSO) migas dan lalu-lintas kapal-kapal industri, kata Aning Bekti, memang memberi dampak, tetapi prosentasenya sangat kecil. Produksi perikanan tangkap yang mengalami peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya, menurut Aning Bekti adalah bukti tidak terlalu berpengaruhnya aktivitas industri tehadap pelayaran nelayan di perairan Tuban. “Produksi perikanan tangkap kita sekarang 9.477,21 ton, meningkat 3,17 persen. Kecil memang, tapi ini bukti bahwa industri tak seberapa berdampak pada produksi ikan tangkapan,” jelas Aning Bekti.

Menurut Aning Bekti, rusaknya anggas juga bukan hal yang cukup signifikan mempengaruhi penurunan produksi perikanan tangkap. Anggas, kata Aning Bekti, hanya salah satu alat bantu tangkap. Faktor utama untuk produksi perikanan tangkap adalah fishing ground. “Perairan Laut Jawa ini kan memang sudah overfishing. Banyak nelayannya dibanding ikannya. Yang kedua, area tangkapan nelayan Tuban kebanyakan tidak lebih dari empat mil persegi karena dukungan alat tangkap yang kurang memadai. Kalau produksi tidak maksimal, ya itu masuk akal. Tanpa ada aktivitas industri pun jika pola penangkapan ikan masih seperti sekarang, ya produksi tetap tidak bisa maksimal,” jelas Aning Bekti.

Hal sama pernah disampaikan Sekretaris DPK, Ir. Amenan, M.T. Hasil studinya, faktor pokok produksi perikanan tangkap di Tuban adalah pola penangkapan ikan. Selain area yang tidak luas dan alat tangkap yang kurang memadai, nelayan Tuban umumnya memakai pola one day fishing, yakni melaut dengan durasi maksimal satu hari.

Pola ini, menurut Amenan, unggul dalam kualitas karena ikan dijamin masih segar saat turun dari perahu. Tetapi dari segi kuantitas tentu tidak bisa maksimal. “Rata-rata nelayan dengan pola one day fishing ini mendapat ikan 10 kilo. Ini saja sudah maksimal. Kebanyakan di bawah itu,” kata Amenan.

DPK, lanjut Amenan, sudah menyadari sepenuhnya bila pola produksi seperti itu kurang memberi keuntungan ekonomis pada nelayan. Upaya mengatasinya, saat ini telah direalisasikan program Mina Pedesaan (PUM) yang dibiayai APBN murni dengan besaran Rp 100 juta/kelurahan/desa. Usaha lain, saat ini sedang dirintis modernisasi peralatan tangkap, terutama perahu yang menjadi alat tangkap utama. “75 persen lebih perahu yang dipakai nelayan berukuran kurang dari 10 GT. Kami upayakan peningkatan kapasitas perahu ini, sehingga fishing ground nelayan kita lebih luas,” kata Amenan.

Amenan optimis jika program modernisasi peralatan tangkap itu berhasil, tak akan ada lagi keluhan nelayan akibat pukatnya tersangkut floating pipe line atau anggasnya rusak terlanggar kapal-kapal industri.

Tetapi menurut Dimjadi, Ketua Paguyuban Nelayan Tuban, yang terpenting saat ini bukan mencari kambing hitam atas penurunan hasil tangkapan nelayan. Menurut Dimjadi, masalah yang butuh segera diatasi adalah hubungan nelayan-industri yang cenderung mengarah ke konflik. Pandangan Dimjadi, apabila pelaku-pelaku industri mau mematuhi aturan yang telah disepakati, tidak akan terjadi masalah antara nelayan dengan industri. “Selama ini nelayan merasa dirugikan oleh aktivitas industri. Bila ini tidak dikomunikasikan dengan baik, maka konflik akan terus ada. Karena realitanya nelayan sering terganggu pipa migas, aktivitas kapal-kapal industri dan pembangunan pelabuhan,” tegas Dimjadi. (Bekti Sudra Atmaja)


Beranda | RSS 2.0 | Kategori: Ekonomi | Tags: , Trackback | 0 Comments

Isi Komentar

*
  • Archives

 


©Copyleft 2011 - 2013 by sosialnews.com
Custom & Design: paradesain.net