Petilasan Gagak Rimang Kuda Ronggolawe
26 - Mar - 2012 | by: admin
Sosialnews.com – Dalam perjalanan sejarah Kabupaten Tuban tidak bisa dipisahkan oleh sepak terjang Adipati Ronggolawe dan kuda tunggangannya yang diberi nama Gagak Rimang pada masa itu, yang sekarang menjadi simbol Kabupaten Tuban.
Peradaban masyarakat Tuban tidak lepas dari konsep magis, sakral, relegius yang menjiwai kehidupan, menyisakan banyak cerita, dongeng, mitos dan legenda juga apapun namanya, di setiap sudut kawasan di Kabupaten Tuban. Konon yang tersebar secara turun-temurun dari bahasa verbal antar masyarakat, masih dipercayai sebagian masyarakat sampai sekarang, bahkan jika terus kebiasaan tersebut berjalan dengan baik akan tetap terjaga selamanya.
Legenda yang berkembang menceritakan bahwa saat awal mula membuka tlatah atau kawasan Tuban pada zaman Mojopahit dahulu terjadilah perebutan kekuasan, terjadi perselisihan dahsyad antara Kebo Anabrang dan Lembu Suro untuk memimpin Kadipaten Tuban. Perselisihan yang sudah sampai pada pertarungan fisik atau adu kesaktian berjalan berpindah-pindah tempat, namun yang paling seru terjadi di sekitaran Desa Beron Kecamatan Rengel. Di tengah perselisihan tersebut muncullah Adipati Ronggolawe selanjutnya berselisih dengan Kebo Anabrang, sehingga perselisihan hebat terjadi antara Kebo Anabrang dan Adipati Ronggolawe. Seperti yang dipercaya masyarakat Adipati Ronggolawe identik dengan kendaraan tunggangannya berupa kuda yang diberi nama Gagak Rimang.
Pertarungan adu kesaktian tersebut terjadi berlangsung berhari-hari, sehingga pada suatu saat kuda tunggangan Adipati Ronggolawe tumbang terbunuh di kawasan Desa Trutup, yang sekarang bernama Talunrejo. Petilasan kuburan jaran (kuda) tersebut terdapat persis di tepi jalan Tuban – Bojonegoro Km 20 dan 5m dari garis tepi jalan Propinsi. Kondisi terkhir dari pantauan sosialnews sangat memprihatinkan, tepat berada di bawah rumpun pohon bambu dibatasi oleh batangan kayu yang sudah dimakan rayap dikerubungi semak perdu. Di sisi lain tempat petilasan itu sangat dekat dengan kegiatan usaha pembakaran gamping sehingga nampak debu putih menempel menutupinya.
Menurut Pak Abdul (80 th) warga sekitar yang kebetulan memecah batu-batuan untuk bahan bangunan di dekat tempat petilasan kuburan kuda, “Saya masih sering melihat tempat ini diziarahi orang dan biasanya dilakukan pada malam hari.“ Dari tempat tersebut juga memang banyak ditemukan bekas sesaji antara lain, dupa, ceceran bunga dan botol-botol minyak. “Katanya para peziarah, di sini mempunyai yoni (kekuatan ghaib) yang sangat besar, juga banyak misteri benda-benda pusaka yang tidak tampak. “Pengunjung tempat tersebut kebanyakan dari luar daerah, ada yang dari dalam Kabupaten Tuban maupun luar Kabupaten seperti Bojonegoro, Lamongan dan sekitarnya.
Terlepas dari apa yang diyakini oleh masyarakat tentang petilasan kuburan kuda tersebut, sudah sepatutnya menjadi perhatian para pihak yang berkepentingan atas kearifan lokal sejarah Kabupaten Tuban, dengan semua jejak budayanya kata salah satu supranaturalis, Imam syafi’i (45 th). * (at)
Beranda | RSS 2.0 | Kategori: Budaya | Tags: Petilasan, Sejarah Trackback | 9 Comments
Kategori Budaya
- Warga Asing pun Ikut Saksikan Seba baduy
- Festival Seni Lut Tawar hadirkan juri dari Banda Aceh
- Jempol! Mahasiswa Gelar Pameran Seni di Kolong Jembatan
- Maudy Koesnaidi Hadiri Cannes Film Festival 2013 di Prancis
- Borobudur Tak Sumbang PAD, Pemkab Ajukan “Judicial Review”
- Rayakan Hari Tari Sedunia, Warga Solo Menari di Jalan
- China Batalkan Pemutaran Perdana Film Django
- Pengadilan Kematian Michael Jackson Mulai Pilih Juri
- 3 Film Meriahkan Festival Film Mini Indonesia di AS
- Twitter Rayakan HUT ke-7, YouTube Capai 1 Milyar Pengguna
Statistik
Archives




Facebook
Google +
Twitter
kok olehhh ae gus atmo
gus atmo paling aktif
Mas, kuda nya Ronggolawe itu kan g punya nama. Gagak Rimang itu kudanya Ariyo Penangsang, Bupati Jipang, kan? Kan kasihan Ariyo Penangsang kalau Gagak Rimang jadi kudanya Ronggolawe, dia ntar g punya kuda dan pastinya umurnya kuda Ronggolawe g mungkin sampai pada zaman Ariyo Penangsang kan? hehehe
banyak versi mas , sumber dari kearifan lokal masyarakat sekitar makam itu mengatakan demikian trima kasih
faiza, sdh betul gagak rimang itu nama kuda ronggolawe. seorang pendekar (tokoh beladiri silat) dari semarang yg mempunyai perguruan silat di tuban bahkan membuat nama gagak rimang sebagai nama perguruan silat kami sejak tahun 1980-an. kalo aryo penangsang itu menurut sy hanya legenda (cerita rakyat), kalo ronggolawe itu sejarah & lebih kuat legalitasnya ketimbang legenda.
Agnes: Wah nek Aryo Penangsang dibilang legenda, berarti anda belum benar-benar mempelajari sejarah… Padahal yang namanya Aryo Penangsang sendiri adalah salah satu murid dari Sunan Kudus dan dalam sejarah masih merupakan keturunan / cucu dari Raden Patah yang ayahnya dibunuh oleh Sunan Prawoto yang masih merupakan dan memang kudanya dalam babad tanah jawa juga bernama Gagak Rimang… Bisa saja Aryo penangsan juga mengagumi Adipati Ronggolawe dan memberi nama kudanya seperti kuda milik Raden Ronggolawe, Gagak Rimang… Lha wong pendekar di semarang aja namain perguruannya juga ikut^ an gitu…gitu aja kok repot…:D
kudanya ronggolawe bukannya nila ambara? apa ronggolawe punya 2 kuda? kalo bgitu yg dipakai saat bertarung dengan anabrang itu kuda yang mana ya?
kudanya apakah betwarna hitam, berperawakan besar kokoh¿?
banyak fersi, namun sejarah nasional mendasarkan sejarah ronggolawe dr kitab pararaton,kidung ronggolawe dan kidung harsawijaya. Disebutkan kuda ronggolawe yg mati saat perang dg anabarang adalah bernama nila ambara.