Petilasan Gagak Rimang Kuda Ronggolawe

26 - Mar - 2012 1:02 WIB | by: sosialnews (12443 klik)
gagak rimamg

Sosialnews.com – Dalam perjalanan sejarah Kabupaten Tuban tidak bisa dipisahkan oleh sepak terjang Adipati Ronggolawe dan kuda tunggangannya yang diberi nama Gagak Rimang pada masa itu, yang sekarang menjadi simbol Kabupaten Tuban.

Peradaban masyarakat Tuban tidak lepas dari konsep magis, sakral, relegius yang menjiwai kehidupan, menyisakan banyak cerita, dongeng, mitos dan legenda juga apapun namanya, di setiap sudut kawasan di Kabupaten Tuban. Konon yang tersebar secara turun-temurun dari bahasa verbal antar masyarakat, masih dipercayai sebagian masyarakat sampai sekarang, bahkan jika terus kebiasaan tersebut berjalan dengan baik akan tetap terjaga selamanya.

Legenda yang berkembang menceritakan bahwa saat awal mula membuka tlatah atau kawasan Tuban pada zaman Mojopahit dahulu terjadilah perebutan kekuasan, terjadi perselisihan dahsyad antara Kebo Anabrang dan Lembu Suro untuk memimpin Kadipaten Tuban. Perselisihan yang sudah sampai pada pertarungan fisik atau adu kesaktian berjalan berpindah-pindah tempat, namun yang paling seru terjadi di sekitaran Desa Beron Kecamatan Rengel. Di tengah perselisihan tersebut muncullah Adipati Ronggolawe selanjutnya berselisih dengan Kebo Anabrang, sehingga perselisihan hebat terjadi antara Kebo Anabrang dan Adipati Ronggolawe. Seperti yang dipercaya masyarakat Adipati Ronggolawe identik dengan kendaraan tunggangannya berupa kuda yang diberi nama Gagak Rimang.

Pertarungan adu kesaktian tersebut terjadi berlangsung berhari-hari, sehingga pada suatu saat kuda tunggangan Adipati Ronggolawe tumbang terbunuh di kawasan Desa Trutup, yang sekarang bernama Talunrejo. Petilasan kuburan jaran (kuda) tersebut terdapat persis di tepi jalan Tuban – Bojonegoro Km 20 dan 5m dari garis tepi jalan Propinsi. Kondisi terkhir dari pantauan sosialnews sangat memprihatinkan, tepat berada di bawah rumpun pohon bambu dibatasi oleh batangan kayu yang sudah dimakan rayap dikerubungi semak perdu. Di sisi lain tempat petilasan itu sangat dekat dengan kegiatan usaha pembakaran gamping sehingga nampak debu putih menempel menutupinya.

Menurut Pak Abdul (80 th) warga sekitar yang kebetulan memecah batu-batuan untuk bahan bangunan di dekat tempat petilasan kuburan kuda, “Saya masih sering melihat tempat ini diziarahi orang dan biasanya dilakukan pada malam hari.“ Dari tempat tersebut juga memang banyak ditemukan bekas sesaji antara lain, dupa, ceceran bunga dan botol-botol minyak. “Katanya para peziarah, di sini mempunyai yoni (kekuatan ghaib) yang sangat besar, juga banyak misteri benda-benda pusaka yang tidak tampak. “Pengunjung tempat tersebut kebanyakan dari luar daerah, ada yang dari dalam Kabupaten Tuban maupun luar Kabupaten seperti Bojonegoro, Lamongan dan sekitarnya.

Terlepas dari apa yang diyakini oleh masyarakat tentang petilasan kuburan kuda tersebut, sudah sepatutnya menjadi perhatian para pihak yang berkepentingan atas kearifan lokal sejarah Kabupaten Tuban, dengan semua jejak budayanya kata salah satu supranaturalis, Imam syafi’i (45 th). * (at)


Beranda | RSS 2.0 | Kategori: Budaya | Tags: , Trackback | 28 Comments

28 Responses to “Petilasan Gagak Rimang Kuda Ronggolawe”

  1. sholahuddin says:

    kok olehhh ae gus atmo

  2. ali says:

    gus atmo paling aktif

  3. Faiza says:

    Mas, kuda nya Ronggolawe itu kan g punya nama. Gagak Rimang itu kudanya Ariyo Penangsang, Bupati Jipang, kan? Kan kasihan Ariyo Penangsang kalau Gagak Rimang jadi kudanya Ronggolawe, dia ntar g punya kuda dan pastinya umurnya kuda Ronggolawe g mungkin sampai pada zaman Ariyo Penangsang kan? hehehe

  4. gous at says:

    banyak versi mas , sumber dari kearifan lokal masyarakat sekitar makam itu mengatakan demikian trima kasih

  5. agnes says:

    faiza, sdh betul gagak rimang itu nama kuda ronggolawe. seorang pendekar (tokoh beladiri silat) dari semarang yg mempunyai perguruan silat di tuban bahkan membuat nama gagak rimang sebagai nama perguruan silat kami sejak tahun 1980-an. kalo aryo penangsang itu menurut sy hanya legenda (cerita rakyat), kalo ronggolawe itu sejarah & lebih kuat legalitasnya ketimbang legenda.

  6. Kundolo Mirah says:

    Agnes: Wah nek Aryo Penangsang dibilang legenda, berarti anda belum benar-benar mempelajari sejarah… Padahal yang namanya Aryo Penangsang sendiri adalah salah satu murid dari Sunan Kudus dan dalam sejarah masih merupakan keturunan / cucu dari Raden Patah yang ayahnya dibunuh oleh Sunan Prawoto yang masih merupakan dan memang kudanya dalam babad tanah jawa juga bernama Gagak Rimang… Bisa saja Aryo penangsan juga mengagumi Adipati Ronggolawe dan memberi nama kudanya seperti kuda milik Raden Ronggolawe, Gagak Rimang… Lha wong pendekar di semarang aja namain perguruannya juga ikut^ an gitu…gitu aja kok repot…:D

  7. rasyid says:

    kudanya ronggolawe bukannya nila ambara? apa ronggolawe punya 2 kuda? kalo bgitu yg dipakai saat bertarung dengan anabrang itu kuda yang mana ya?

  8. mhicha says:

    kudanya apakah betwarna hitam, berperawakan besar kokoh¿?

  9. gelab says:

    banyak fersi, namun sejarah nasional mendasarkan sejarah ronggolawe dr kitab pararaton,kidung ronggolawe dan kidung harsawijaya. Disebutkan kuda ronggolawe yg mati saat perang dg anabarang adalah bernama nila ambara.

  10. axl says:

    setau saya kudanya ronggolawe itu nila ambara , dan kudanya harya penangsang itu yang gagak rimang , kalo masalah beladiri di BLORA juga ada Radio FM gagak rimang . Dan nama itu di ambil dari kisah aryo penangsang yang mempunyai kuda yg juga sakti berwarna hitam ,

  11. andre says:

    sya jualan kuda om,klo kusir2 menyebut kuda yg wrna hitam mereka mnyebutnya gagak rimang,klo gak ya hitam maid, napas untuk kuda wrna coklat,tp mnurut primbon biasanya yg di naiki pangeran apa raja ya kuda hitam pekat,kuda gagak rimang,ktnya bs buat tolak balak

  12. rudhi r_82 says:

    Sekarang kuda ngak sekuat dulu..

  13. Rokhim says:

    Ya, kalo nggak salah sejarah yang lain menyebut nama kuda Rangga Lawe bernama Nila Ambara dan Kerisnya bernama Mega Lamat. mana yg benar ya…?

  14. Rokhim says:

    Memang Jualan kuda, tapi kuda apa dulu? kalo kuda untuk pedati/ delman mungkin gak selevel kuda para raja/ pangeran, paling tidak jaman sekarang ya selevel kuda pacu he he he….

  15. sanny says:

    kuda sekarang pada lemah sahwat

  16. krishna sanjaya says:

    Bagi saya kuda arya penangsang dan kuda ronggolawe adalah kuda hebat pada zaman-nya.entah nila ambara ataupun gagak rimang semuanya hebat
    Dan bagi saya entah arya penangsang dan ronggolawe adalah legenda hidup di masa lalu dan menjadi pahlawan di kawasan masing2…
    Tp klo masalah kuda arya penangsang dan ronggolawe gak ada yg bs mengalahkan kuda saya yg bernama”innova”….ђёђёђёђёђё

  17. duhita panca tantra says:

    Mohon maaf sebelumnya, menurut beberapa sumber yang saya baca nama kuda ronggolawe itu nila ambhara, sedangkan gagak rimang adalah nama kuda aryo penangsang. Maaf cuma mau share aja..

  18. Kok bahasa kuda wes gak kuat tubesin to py says:

    Kok ribut maslah kuda gak kuat beli besin to gimn??

  19. Rusman says:

    Semua orang lelaki pasti punya kuda hitam, Ranggalawe, Kang Aryo, dan awak ndewek, he..he..

  20. agung budi prasetya says:

    Mnrt sy gagak rimang itu kudanya arya penangsang.Sedangkan kudanya ranggalawe sy tdk tahu namanya.Sy jelas tdk setuju jika arya penangsang cuma sekedar legenda krn dia benar2 ada.Bahkan dlm pelajaran sejarah jg tertulis namanya.Dan dia mati di tangan danang sutawijaya(panembahan srnapati,raja mataram yg pertama).Apa itu jg legenda?Antara ranggalawr & arya penangsang ada kesamaan yakni sama2 dipandang sbg pahlawan masing2.Ranggalawe pahlawan bagi masyarakat tuban,sedangkan arya penangsang pahlawan bagi madyarakat jipang panolan.Trm kasih.

  21. pelangi surga says:

    saya Keturunan Eyang RonggoLawe

  22. gondomayit says:

    aku mau kuda yang namanya nila saroya.

  23. Kang Anto says:

    Kuda Ronggolawe itu namanya Kyai Nila Ambara (warna hitam gelap), sama dengan Kuda Ario Penangsang Kyai Gagak Rimang. Terkadang kita terbiasa mencampur adukan — memang keduanya sama-sama kuda hitam — sehingga sering kita mempersepsikan gagak (gagak sendiri sebenarnya warnanya adalah NILA, merah-biru-kehitam-hitaman mengkilat).

  24. Fahmi S says:

    lho bukannya gagak rimang itu kudanya adipati jipang panolan (Raden Arya Panangsang), murid dari Sunan Kudus..

  25. haquza says:

    ranggalawe utusannya raden wijaya anaknya arya wiraraja bupati sumenep, palingan bukan kuda tue tapi sapi, hahaha. sapi buat karapan, biasanya tubuhnya kekar larinya kenceng.

  26. toyok says:

    Ranggalawe atau Rangga Lawe (lahir: ? –
    wafat: 1295 ) adalah salah satu pengikut
    Raden Wijaya yang berjasa besar dalam
    perjuangan mendirikan Kerajaan
    Majapahit, namun meninggal sebagai
    pemberontak pertama dalam sejarah
    kerajaan ini. Nama besarnya dikenang
    sebagai pahlawan oleh masyarakat Tuban
    sampai saat ini.
    Peran awal
    Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung
    Ranggalawe menyebut Ranggalawe sebagai
    putra Arya Wiraraja bupati Songeneb
    (nama lama Sumenep). Ia sendiri
    bertempat tinggal di Tanjung, yang
    terletak di Pulau Madura sebelah barat.
    Pada tahun 1292 Ranggalawe dikirim
    ayahnya untuk membantu Raden Wijaya
    membuka Hutan Tarik (di sebelah barat
    Tarik, Sidoarjo sekarang) menjadi sebuah
    desa pemukiman bernama Majapahit.
    Konon, nama Rangga Lawe sendiri
    merupakan pemberian Raden Wijaya karena
    berkaitan dengan penyediaan 27 ekor kuda
    dari Sumbawa sebagai kendaraan perang
    Raden Wijaya dan para pengikutnya dalam
    perang melawan Jayakatwang raja Kadiri
    atau juga mempunyai arti rangga berarti
    ksatria / pegawai kerajaan dan Lawe
    merupakan sinonim dari wenang, yang
    berarti “benang”, [1] atau dapat juga
    bermakna “kekuasaan” atau kemenangan.
    dan Ranggalawe kemudian diberi kekuasaan
    oleh Raden Wijaya untuk memimpin
    pembukaan hutan tersebut.
    Penyerangan terhadap ibu kota Kadiri oleh
    gabungan pasukan Majapahit dan Mongol
    terjadi pada tahun 1293 . Ranggalawe
    berada dalam pasukan yang menggempur
    benteng timur kota Kadiri. ia berhasil
    menewaskan pemimpin benteng tersebut
    yang bernama Sagara Winotan.
    Jabatan di Majapahit
    Setelah Kadiri runtuh, Raden Wijaya
    menjadi raja pertama Kerajaan
    Majapahit. Menurut Kidung Ranggalawe ,
    atas jasa-jasanya dalam perjuangan
    Ranggalawe diangkat sebagai bupati Tuban
    yang merupakan pelabuhan utama Jawa
    Timur saat itu.
    Prasasti Kudadu tahun 1294 yang memuat
    daftar nama para pejabat Majapahit pada
    awal berdirinya, ternyata tidak
    mencantumkan nama Ranggalawe. Yang ada
    ialah nama Arya Adikara dan Arya
    Wiraraja. Menurut Pararaton , Arya
    Adikara adalah nama lain Arya Wiraraja.
    Namun prasasti Kudadu menyebut dengan
    jelas bahwa keduanya adalah nama dua
    orang tokoh yang berbeda.
    Sejarawan Slamet Muljana
    mengidentifikasi Arya Adikara sebagai
    nama lain Ranggalawe. Dalam tradisi Jawa
    ada istilah nunggak semi , yaitu nama ayah
    kemudian dipakai anak. Jadi, nama Arya
    Adikara yang merupakan nama lain Arya
    Wiraraja, kemudian dipakai sebagai nama
    gelar Ranggalawe ketika dirinya diangkat
    sebagai pejabat Majapahit.
    Dalam prasasti Kudadu, ayah dan anak
    tersebut sama-sama menjabat sebagai
    pasangguhan , yang keduanya masing-
    masing bergelar Rakryan Mantri Arya
    Wiraraja Makapramuka dan Rakryan Mantri
    Dwipantara Arya Adikara .
    Tahun pemberontakan
    Pararaton menyebut pemberontakan
    Ranggalawe terjadi pada tahun 1295 ,
    namun dikisahkan sesudah kematian Raden
    Wijaya. Menurut naskah ini,
    pemberontakan tersebut bersamaan dengan
    Jayanagara naik takhta.
    Menurut Nagarakretagama , Raden Wijaya
    meninggal dunia dan digantikan
    kedudukannya oleh Jayanagara terjadi
    pada tahun 1309 .[2] Akibatnya, sebagian
    sejarawan berpendapat bahwa
    pemberontakan Ranggalawe terjadi pada
    tahun 1309, bukan 1295. Seolah-olah
    pengarang Pararaton melakukan kesalahan
    dalam penyebutan angka tahun.
    Namun Nagarakretagama juga mengisahkan
    bahwa pada tahun 1295 Jayanagara
    diangkat sebagai yuwaraja atau “raja
    muda” di istana Daha . Selain itu Kidung
    Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe
    dengan jelas menceritakan bahwa
    pemberontakan Ranggalawe terjadi pada
    masa pemerintahan Raden Wijaya, bukan
    Jayanagara.
    Fakta lain menunjukkan, nama Arya
    Wiraraja dan Arya Adikara sama-sama
    terdapat dalam prasasti Kudadu tahun
    1294, namun kemudian keduanya sama-
    sama tidak terdapat lagi dalam prasasti
    Sukamreta tahun 1296. Ini pertanda bahwa
    Arya Adikara alias Ranggalawe
    kemungkinan besar memang meninggal
    pada tahun 1295, sedangkan Arya Wiraraja
    diduga mengundurkan diri dari
    pemerintahan setelah kematian anaknya
    itu.
    Jadi, kematian Ranggalawe terjadi pada
    tahun 1295 bertepatan dengan
    pengangkatan Jayanagara putra Raden
    Wijaya sebagai raja muda. Dalam hal ini
    pengarang Pararaton tidak melakukan
    kesalahan dalam menyebut tahun, hanya
    saja salah menempatkan pembahasan
    peristiwa tersebut.
    Sementara itu Nagarakretagama yang
    dalam banyak hal memiliki data lebih
    akurat dibanding Pararaton sama sekali
    tidak membahas pemberontakan
    Ranggalawe. Hal ini dapat dimaklumi
    karena naskah ini merupakan sastra pujian
    sehingga penulisnya, yaitu Mpu Prapanca
    merasa tidak perlu menceritakan
    pemberontakan seorang pahlawan yang
    dianggapnya sebagai aib.
    Jalannya pertempuran
    Pararaton mengisahkan Ranggalawe
    memberontak terhadap Kerajaan
    Majapahit karena dihasut seorang pejabat
    licik bernama Mahapati . Kisah yang lebih
    panjang terdapat dalam Kidung Panji
    Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe .
    Pemberontakan tersebut dipicu oleh
    ketidakpuasan Ranggalawe atas
    pengangkatan Nambi sebagai rakryan patih.
    Menurut Ranggalawe, jabatan patih
    sebaiknya diserahkan kepada Lembu Sora
    yang dinilainya jauh lebih berjasa dalam
    perjuangan daripada Nambi.
    Ranggalawe yang bersifat pemberani dan
    emosional suatu hari menghadap Raden
    Wijaya di ibu kota dan langsung menuntut
    agar kedudukan Nambi digantikan Sora.
    Namun Sora sama sekali tidak menyetujui
    hal itu dan tetap mendukung Nambi
    sebagai patih.
    Karena tuntutannya tidak dihiraukan,
    Ranggalawe membuat kekacauan di halaman
    istana. Sora keluar menasihati Ranggalawe,
    yang merupakan keponakannya sendiri,
    untuk meminta maaf kepada raja. Namun
    Ranggalawe memilih pulang ke Tuban .
    Mahapati yang licik ganti menghasut Nambi
    dengan melaporkan bahwa Ranggalawe
    sedang menyusun pemberontakan di Tuban.
    Maka atas izin raja, Nambi berangkat
    memimpin pasukan Majapahit didampingi
    Lembu Sora dan Kebo Anabrang untuk
    menghukum Ranggalawe.
    Mendengar datangnya serangan,
    Ranggalawe segera menyiapkan
    pasukannya. Ia menghadang pasukan
    Majapahit di dekat Sungai Tambak Beras.
    Perang pun terjadi di sana. Ranggalawe
    bertanding melawan Kebo Anabrang di
    dalam sungai. Kebo Anabrang yang pandai
    berenang akhirnya berhasil membunuh
    Ranggalawe secara kejam.
    Melihat keponakannya disiksa sampai mati,
    Lembu Sora merasa tidak tahan. Ia pun
    membunuh Kebo Anabrang dari belakang.
    Pembunuhan terhadap rekan inilah yang
    kelak menjadi penyebab kematian Sora
    pada tahun 1300 .
    Silsilah Ranggalawe
    Kidung Ranggalawe dan Kidung Panji
    Wijayakrama menyebut Ranggalawe
    memiliki dua orang istri bernama Martaraga
    dan Tirtawati. Mertuanya adalah gurunya
    sendiri, bernama Ki Ajar Pelandongan. Dari
    Martaraga lahir seorang putra bernama
    Kuda Anjampiani.
    Kedua naskah di atas menyebut ayah
    Ranggalawe adalah Arya Wiraraja.
    Sementara itu, Pararaton menyebut Arya
    Wiraraja adalah ayah Nambi. Kidung
    Harsawijaya juga menyebutkan kalau putra
    Wiraraja yang dikirim untuk membantu
    pembukaan Hutan Tarik adalah Nambi,
    sedangkan Ranggalawe adalah perwira
    Kerajaan Singhasari yang kemudian
    menjadi patih pertama Majapahit .
    Uraian Kidung Harsawijaya terbukti salah
    karena berdasarkan prasasti Sukamreta
    tahun 1296 diketahui nama patih pertama
    Majapahit adalah Nambi, bukan
    Ranggalawe.
    Nama ayah Nambi menurut Kidung
    Sorandaka adalah Pranaraja. Sejarawan
    Dr. Brandes menganggap Pranaraja dan
    Wiraraja adalah orang yang sama. Namun,
    menurut Slamet Muljana keduanya sama-
    sama disebut dalam prasasti Kudadu
    sebagai dua orang tokoh yang berbeda.
    Menurut Slamet Muljana, Nambi adalah
    putra Pranaraja, sedangkan Ranggalawe
    adalah putra Wiraraja. Hal ini ditandai
    dengan kemunculan nama Arya Wiraraja
    dan Arya Adikara dalam prasasti Kudadu,
    dan keduanya sama-sama menghilang
    dalam prasasti Sukamreta sebagaimana
    disinggung sebelumnya.
    Versi dongeng
    Nama besar Ranggalawe rupanya melekat
    dalam ingatan masyarakat Jawa . Penulis
    Serat Damarwulan atau Serat Kanda ,
    mengenal adanya nama Ranggalawe namun
    tidak mengetahui dengan pasti bagaimana
    kisah hidupnya. Maka, ia pun menempatkan
    tokoh Ranggalawe hidup sezaman dengan
    Damarwulan dan Menak Jingga . Damarwulan
    sendiri merupakan tokoh fiksi, karena
    kisahnya tidak sesuai dengan bukti-bukti
    sejarah, serta tidak memiliki prasasti
    pendukung.
    Dalam versi dongeng ini, Ranggalawe
    dikisahkan sebagai adipati Tuban yang
    juga merangkap sebagai panglima angkatan
    perang Majapahit pada masa pemerintahan
    Ratu Kencanawungu. Ketika Majapahit
    diserang oleh Menak Jingga adipati
    Blambangan, Ranggalawe ditugasi untuk
    menghadangnya. Dalam perang tersebut,
    Menak Jingga tidak mampu membunuh
    Ranggalawe karena selalu terlindung oleh
    payung pusakanya. Maka, Menak Jingga
    pun terlebih dulu membunuh abdi
    pemegang payung Ranggalawe yang
    bernama Wongsopati. Baru kemudian,
    Ranggalawe dapat ditewaskan oleh Menak
    Jingga.
    Tokoh Ranggalawe dalam kisah ini memiliki
    dua orang putra, bernama Siralawe dan
    Buntarlawe, yang masing-masing kemudian
    menjadi bupati di Tuban dan Bojonegoro

  27. Agung Arya says:

    Agung Arya

    Petilasan Gagak Rimang Kuda Ronggolawe « Sosialnews.com

  28. anang rimang says:

    sampon2 mas,yg jlas kuda mereka gak dekuat kuda besi sekarang….
    apalagi kli di bnding kan dngan kuda ny bpk presiden kita pak soeharto,yg harley nya…
    wani ngepor mas.
    heheheeee

Isi Komentar

*
 


©Copyleft 2011 - 2015 by sosialnews.com
Custom & Design: paradesain.net